Jika Tuhan Berkehendak

Planning

Mengawali sesuatu merupakan sebuah kegiatan yang bercampur dengan berbagai perasaan.  Ada yang merasa bersemangat dalam menghadapinya, ada yang tegang, ada yang bosan, ada yang lelah, dan mungkin ada juga yang sudah patah arang sebelum memulai.  Perasaan-perasaan ini timbul karena berbagai harapan yang berbeda mengenai apa yang hendak dihadapi seseorang.  Mungkin bagi sebagian besar mahasiswa UK Petra ia akan menghadapi perkuliahan yang baru.  Itu berarti ia harus mempersiapkan diri menyelesaikan berbagai tuntutan yang akan diletakkan di pundaknya.  Batas akhir pengumpulan seakan mengejar terus dan menghantui setiap gerakan dan langkah.  Tentu saja ini memengaruhi cara seseorang mengawali semester barunya.

Cara untuk meminimalkan kejutan dalam mengawali sesuatu tentunya adalah dengan merencanakannya.  Perencanaan merupakan bagian yang dilakukan oleh setiap orang.  Setiap kali bangun, kita sudah merencanakan apa yang akan dikerjakannya hari itu, pakaian apa yang akan dikenakan, perlengkapan apa yang perlu dibawa, dan juga kemungkinan jam kepulangannya.  Demikian pula dengan perencanaan kita menghadapi semester baru ini, bahkan seluruh kehidupan.  Mata kuliah apa yang akan diambil, kegiatan kemahasiswaan apa yang akan dikerjakan, pekerjaan semacam apa yang akan ditempuh.  Kita perlu untuk merencanakan apa yang akan dikerjakan pada semester ini maupun ke depannya.

Sekalipun demikian, perencanaan tidak selalu baik di mata Tuhan.  Di tengah para pedagang Kristen membuat perencanaan untuk pergi ke suatu tempat dan berdagang, Yakobus menegur, “sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok.  Apakah arti hidupmu?  Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap” (Yak. 4:14).  Apa maksudnya seperti uap?  Ketika kita membuat sebuah minuman panas, maka kita melihat uap mulai membubul dari permukaan air panas tersebut.  Tetapi uap tersebut tidaklah bertahan sampai keluar ruangan dan, sebutlah, menjelajah ke kota Malang.  Kita sadar bahwa uap tersebut hanya “sebentar kelihatan lalu lenyap.”  Demikianlah perencanaan manusia menurut Yakobus.

Ini tentunya bukan hal yang mengejutkan.  Kesalahan terbesar manusia adalah menganggap dunia ini bisa ada tanpa campur tangan Tuhan.  Raja-raja besar yang memiliki kekuasaan tak terkira pun bisa jatuh dan mati karena hal konyol.  Simoncelli, seorang pembalap profesional bisa jatuh di tikungan—yang menjadi santapan profesinya sehari-hari—lalu terlindas motor yang di belakangnya hingga tewas.  Steve Jobs, dengan segala kehebatan, kekayaan, dan pikirannya yang brilian, harus meninggal di usia yang tergolong muda.  Hidup manusia seperti uap.  Sebentar ada, sebentar tidak ada—itulah manusia.  Lantas, mau berpegang kepada apakah kita?  Segala kekayaan dan kuasa yang kita miliki tidak ada artinya di hadapan Tuhan yang berdaulat dan bertakhta penuh.  Kekayaan kita bisa habis dirampok; kecelakaan bisa menimpa kita setiap saat; bisa saja besok kita ditipu orang; bisa saja besok kita divonis penyakit yang meminta nyawa kita dalam waktu dekat; siapa yang bisa menjamin perkuliahan kita akan senantiasa lancar?—saya tidak ingin membuat kita menjadi paranoid, namun itulah yang biasa terjadi bukan?  Karena itu amatlah disayangkan orang percaya yang masih berusaha bergantung pada dirinya sendiri yang fana bagaikan uap.  Yakobus mengatakan orang yang demikian adalah “congkak,” dan semua kemegahan yang demikian adalah salah—yang dalam bahasa aslinya lebih tepat dikatakan “jahat”—kata yang biasa juga digunakan untuk menyebut iblis (Yak. 4:16).

Tuhan memang berdaulat penuh, tetapi sejauh manakah kita menyadari hal ini?  “Jika Tuhan menghendakinya,” itulah yang menjadi saran Yakobus (Yak. 4:15).  Mungkin kita terbiasa mengucapkannya, tetapi apa artinya bergantung pada Tuhan dalam perencanaan kita?

Menerima kehendak Allah dalam hidup berarti menjadi terbuka terhadap koreksi dari Allah akan perencanaan kita, yang memang rentan dengan kekeliruan.  Berencanalah, berdoalah, dan bertanyalah pada Tuhan akan apa yang dikehendaki-Nya dalam kehidupan kita.  Caranya bukan terbalik, kita melakukan ini dan itu, lalu kita bertanya apakah Tuhan berkenan, tetapi, kita bertanya kepada Tuhan, lalu melakukan ini dan itu.

Memiliki Allah sebagai yang berdaulat atas kehidupan kita bukanlah menjadi tali yang mengekang perjalanan kita.  Justru karena kita tahu bahwa Allah lebih berdaulat dari pada manusia, maka kita berani menapaki jalan hidup ini dengan ketenangan.  Kegagalan yang terburuk tidaklah menjadi akhir dalam kedaulatan Allah–Sang Perencana Agung.  Kehidupan bersama dengan Allah tidak dapat disandingkan dengan segala perencanaan manusia yang terbaik sekalipun.

Kita tidak dapat bergantung pada diri sendiri, sebab hidup kita laksana uap.  Karena itu bergantunglah pada Tuhan dengan berdoa dan meminta tuntunannya, bukan sebaliknya.  Melalui jalan demikianlah, maka kita bisa mengawali semester yang baru ini bukan dengan ketegangan, kekhawatiran, ketakutan, namun dengan pengharapan.

 

Vincent Tanzil, S.Sn.

Artikel ini terbit dalam DwiPekan no.11/ 18 Februari-3 Maret 2014

1 Comment

  1. tanggal 13 april ini di grii kemayoran rev. Ravi Zakharias adakan seminar, tertarik?? hubungi gereja reformed di kemayoran..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s