Peranku dalam Dunia Ini

15538

Kita semua senang dengan cerita.  Semenjak kecil, kita terbiasa mendengar cerita atau menonton film-film yang menunjukkan gambaran sebuah dunia yang tampak lain dari apa yang biasa kita amati dalam kenyataan.  Kadang-kadang timbul keinginan untuk menjadi salah satu tokoh dalam film tersebut.  “Bagaimana ya kalau aku jadi pahlawan dalam film tersebut? Apa yang akan kulakukan?”  Hal inilah yang memicu banyak orang senang membeli pernak-pernik dari sebuah film tertentu.  Sebut saja setelah film Spider Man tayang di layar lebar, kita dapat menemukan anak-anak yang memakai tas dengan motif Spider Man.  Keinginan untuk berpartisipasi dalam sebuah kisah itu amat terasa, bahkan mendorong kita untuk melakukan sesuatu demi memenuhi hasrat partisipasi tersebut.

Beranjak dewasa tidaklah meniadakan hasrat tersebut.  Tidak terasa kita sekarang sudah memasuki penghujung masa-masa perkuliahan.  Selama ini semua yang dijalani adalah tuntunan atau tuntutan dari orang yang lebih dewasa dari kita.  Sekarang tibalah saatnya, kata sebagian orang, “dunia nyata.”  Waktu untuk beridealisme telah usai.  Itu semua cocok untuk mahasiswa, tapi tidak untuk orang dewasa.  Tapi bagaimanakah menjalani kehidupan di “dunia nyata” ini?  Tidak jarang strategi mahasiswa pada umumnya adalah bekerja di bawah orang lain, lalu melanjutkan usaha orang tua, kemudian menikah, membesarkan anak, menjadi tua, lalu meninggal.  Tapi banyak sekali orang yang tidak puas dengan kehidupannya.  Perkataan Seno Gumira Ajidarma ini mungkin diamini oleh banyak orang, “Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa.”  Apa yang dicari?  Makna!  Hasrat itu timbul kembali: “aku ingin menjadi sebuah pemeran dalam cerita yang besar!”  Ia tak bisa diredam dan syukurlah demikian.

Alkitab adalah buku yang menawarkan suatu cara memandang alur sejarah.  Dunia ini merupakan dunia yang baik dan indah yang diciptakan oleh Allah yang mengasihi ciptaan-Nya.  Sayangnya kisah ini tidak berjalan lancar.  Manusia jatuh dalam dosa dan membuat segalanya menjadi kacau.  Tapi kejatuhan tersebut tidak menggores kasih Allah kepada ciptaan-Nya.  Allah tidak berdiam diri, Ia mengutus Anak-Nya yang tunggal untuk datang ke dunia dan melakukan karya keselamatan melalui salib dan kebangkitan-Nya.  Tapi itu baru langkah awal.  Sebelum Yesus, sang Anak, naik ke surga, Ia memerintahkan murid-murid-Nya untuk “menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi” (Kis. 1:8).  Ia ingin agar murid-murid-Nya memberitakan Kabar Baik bahwa Tuhan telah datang dan sedang memulihkan segala sesuatu.

Yesus datang bukan sekadar untuk membawa orang ke surga, tetapi menjadikan kehendak Tuhan di bumi sama seperti di surga, seperti yang biasa dilantunkan dalam doa Bapa Kami.  Inilah narasi besar dunia.  Dunia sedang dipulihkan menjadi sebuah ciptaan yang baru dan manusia yang telah ditebus adalah saksi dari karya pemulihan tersebut.  Karena itulah Paulus mengatakan “Dan semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya dan yang telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami. Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. Ia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami” (2Kor.5:18-19; bdk. Kol. 1:20).  Pertama, kita yang didamaikan dengan Allah, kemudian kita menjadi pelayan pendamaian dunia ini dengan Allah.  Akhir dari sejarah dunia adalah, “Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru!” (Why. 21:5a).

Hidup dengan kisah Allah berarti melawan kisah dunia.  Apakah yang ditawarkan dunia ini?  Hidup mencari segala yang menguntungkan bagi diri dan keluarga sendiri lalu mengakhirinya dengan kematian.  Sungguh hidup yang menyedihkan!  Orang percaya tidak demikian, ia senantiasa berenang melawan arus dunia.

Orang percaya menyadari bahwa ia sedang berpartisipasi dalam sebuah sejarah di mana Allah sedang bekerja–bahkan, orang percaya adalah pelayan bagi pekerjaan Allah tersebut!  Akhir dari segala sesuatu bukanlah kematian, namun kehidupan oleh Kristus.  Inilah yang membuat segalanya bermakna.  Apapun pekerjaan orang percaya, maka haruslah ia memancarkan kasih dan kuasa pendamaian Tuhan dalam dunia yang tidak sempurna ini.  Inilah panggilan setiap orang percaya.  Tidak percuma orang percaya dipanggil untuk menjadi “garam dan terang” (Mat. 5:13), sebab di mana mereka ada, di situ ada kedamaian, sukacita, kasih, kebenaran, dan keadilan dari Yesus Kristus.  Melalui jalan inilah kita berpartisipasi dalam kisah kasih Allah bagi dunia.  Menyambut hari wisuda kita, siapkah kita menjadi pemeran dalam sejarah Allah?

Ditulis pada 10 Februari 2014

 Artikel ini terbit dalam DwiPekan  edisi khusus Wisuda ke-65 Februari 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s