Setelah Melihat

20140423-213651.jpg

Memandang, memberi pandangan, dan pemandangan merupakan kata-kata yang lazim digunakan dalam wacana sehari-hari. Mereka semua mendeskripsikan salah satu aspek penting manusia, yakni penglihatan. Ada banyak hal yang sanggup dilakukan manusia, namun salah satu yang terpenting adalah memiliki sebuah penglihatan. Cukup dengan mengunjungi tempat tunanetra akan memberikan gambaran penting dari penglihatan.

Tapi penglihatan saja tidak cukup. Sebuah pandangan masih perlu untuk diolah menjadi tindakan. Yakobus memberikan contoh adanya seorang yang memandang seseorang berdasarkan kekayaan, lalu bertindak diskriminatif dan menyingkirkan yang miskin (2:1-4). Baru beberapa baris setelah itu Yakobus kembali mengisahkan kemunafikan orang “beriman” (2:14-17). Apakah gunanya seorang beriman yang bisa melihat orang tak berpakaian dan kelaparan namun memberikan reaksi doa semata? Orang demikian sudah lama mati imannya. Yakobus memberikan gambaran bahwa melihat saja tidaklah pernah cukup. Reaksi yang diberikan setelah melihat, itulah yang terlebih penting.

Hal ini digemakan kembali oleh John Caputo. Dalam mengkritisi tendensi orang Kristen untuk sekadar berspekulasi namun tidak melakukan keadilan ia memberi peringatan, “Sebab, bisa saja timbul tabiat bahwa kalau semuanya telah dirumuskan ke dalam kredo dan kitab-kitab, dan di situ telah pula dikatakan apa yang harus dilakukan, maka mereka telah pula melaksanakan tugasnya dan sudah sepenuhnya bertanggung jawab.” Senada dengan itu, Karl Marx, betapapun seseorang setuju dengan keseluruhan pikirannya atau tidak, menuliskan, “Para filsuf hanya menafsirkan dunia ini dengan berbagai cara; tujuannya adalah untuk mengubah [dunia]!” Tentu pernyataan mereka bukan hendak menihilkan nilai nalar reflektif dan kritis, tapi merupakan buah kegeraman terhadap dinginnya nurani banyak manusia. Tampaknya sudah menjadi tabiat umum manusia untuk berhenti sampai memandang dan memberi pandangan saja.

Ketika Yesus sedang menapakkan kaki-Nya di muka bumi, Ia pun “melihat sejumlah besar orang banyak.“ Tapi tidak hanya sampai situ, “maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala” (Mrk. 6:34). Belas kasihan! Apa yang dilakukan Yesus sesudah itu? Ia mengajar kumpulan orang banyak yang kebingungan soal Kerajaan Allah itu. Ketika hari menjadi gelap dan para pendengar hendak pulang, Yesus mengejutkan para murid-Nya dengan berkata, “Kamu harus memberi mereka makan!” (Mrk. 6:37). Tak ayal, para murid pun kebingungan. Kisah selanjutnya sudah umum kita dengar, seluruh pendengar tersebut makan hingga kenyang melalui tangan sang Roti dari Surga. Tapi itulah Yesus Kristus, Ia tidak hanya melihat, namun berbelas kasih; Ia tidak hanya memberikan kata, namun juga karya!

Di Indonesia dewasa ini kita diberikan tebaran janji oleh orang-orang yang mengaku mewakili kepentingan rakyat. Mereka memberikan pandangan-pandangan akan bagaimana seharusnya memberi perubahan yang sudah lama dirindukan masyarakat. Segala pandangan mereka akan diuji oleh karya mereka sendiri. Demikian pula dengan mereka yang mengaku sebagai pengikut Yesus Kristus–yakni orang-orang yang membawa Kabar Baik: pengampunan, damai, keadilan, dan sukacita dalam Yesus Kristus. Adakah kita melihat dan berbelaskasihan? Adakah kita tidak hanya memberikan kata, namun juga karya? Segala pandangan kita akan diuji oleh karya kita sendiri.

Ditulis pada 8 April 2014

Artikel ini dimuat di Dwi Pekan No. 15/XXII/15 April 2014-28 April 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s