Kekhawatiran dan Konsumerisme

consumerism

Selesai sudah perkuliahan di UK Petra ini! Bagi sebagian alumni ini merupakan hal yang menyenangkan. Bagi sebagian lainnya mungkin ini adalah hal yang menyedihkan. Tetapi beberapa hal tentu mulai bermunculan di benak kepala: “Apa yang harus saya lakukan setelah ini?” “Bagaimana saya bisa mencukupkan kebutuhan keluarga saya ke depan?” “Apa yang harus saya makan dan apa yang harus saya pakai?” Pertanyaan-pertanyaan inilah yang membuat pikiran berbuih risau atau khawatir.

Kekhawatiran tersebut tentu bisa diredam apabila kebutuhan primer sudah tercukupi. Sebenarnya apabila seluruh manusia hanya berpikir untuk memenuhi kebutuhan primer saja, maka kekhawatiran harusnya tidak terus muncul. Tetapi dunia ini tidak selalu bersahabat. Alih-alih berkata: “cukup,” mereka malah berkata: “tambah lagi.” Televisi, keluarga, rekan sekerja, ditambah pasangan dan buah hati tampak saling bekerjasama untuk menyuruh kita membuka dompet lagi dan lagi. Barang-barang yang dipampang dalam pusat-pusat perbelanjaan menuduh milik kita sebagai “kuno,” “jelek,” dan “tak berguna.” Termakan oleh tuduhan mereka, kita merogoh kocek dan membungkam rasa ingin yang dipantik oleh tuduhan-tuduhan itu.

Dengan demikian lingkaran itu dimulai. Kita bekerja untuk mendapatkan uang, kemudian kita menjadi lelah dan menonton televisi serta iklan-iklan dengan tidak kritis, kemudian kita membeli barang-barang yang sebelumnya tidak kita perlukan, kemudian uang habis dan lingkaran tersebut diulang kembali. Inilah yang disebut sebagai lingkaran konsumerisme. Lingkaran ini membawa kita kepada pusaran kekhawatiran dan ketidakpuasan yang tiada henti. “Cukup” hanyalah salam diplomatis seraya melakukan transaksi. Ia tidak pernah menjadi kata akhir.

Syukurlah Yesus yang memang Immanuel tidak pernah membiarkan kita berjalan tanpa sinar pandu. Injil Matius menyatakan bahwa burung-burung di udara semuanya dipedulikan oleh Tuhan. Mereka tidak menabur, namun Tuhanlah yang memberikan mereka makan. Demikian pula tumbuhan yang bertumbuh adalah karena Tuhan memberikan pertumbuhan. Mereka dihiasi oleh Tuhan sendiri, bukan butik dari suatu tempat kenamaan, tetapi oleh Desainer alam semesta sendiri! Yesus mengatakan bahwa kebesaran Salomo yang megah dan indah pun tidak dapat mengalahkan rumput dan bunga yang kita lihat di luar. Karena itu, sangatlah wajar apabila Tuhan Yesus berkata kepada kita hari ini, “jangan khawatir” (Matius 6:25-24). Kita bukanlah binatang; kita bukanlah sekadar tumbuhan; kita adalah manusia yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Mereka yang menggantungkan hidupnya kepada Allah tak akan beroleh kecewa.

Lantas demikian, apa yang seharusnya menjadi fokus kita? Firman-Nya: “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” Bukan fokus mencari berkat, namun menjadi berkat. Ketika kita berpikir untuk menambah jumlah kekayaan secara terus menerus, maka kekhawatiran akan hinggap seperti lalat kepada daging yang busuk. Tetapi tatkala kita tidak berniat mengumpulkan tetapi memberi, maka pikiran pun terbebas dari kekhawatiran. Seperti halnya sebuah saluran pipa ledeng yang terus mengalirkan air bagi mereka yang di pucuk. Bilamana ia setia menyalurkan air tersebut ia akan selalu menjadi basah. Celakalah apabila ia berusaha menahan air tersebut demi dirinya sendiri. Pipa ledeng tersebut malah menjadi retak dan bocor akibat keserakahannya menahan air demi memuaskan dahaga dirinya sendiri.

Perjalanan yang baru akan segera ditempuh. Kekhawatiran akan kerap menghinggapi pikiran kita. Ingatlah, tetapi, bahwa Allah sanggup memelihara orang-orang yang bergantung pada-Nya. Karena itu berfokuslah untuk menjadi berkat. Mencari uang tidaklah dosa, kecuali ketika mencari uang dan keegoisan menjadi tujuan akhirnya itu sendiri. Marilah bekerja dengan jujur dan berintegritas untuk menjadi berkat bagi sesama. Dengan memercayakan diri kepada Allah dan memfokuskan diri mencari Kerajaan Allah kita sanggup terlepas dari belenggu konsumerisme.

Selamat diwisuda dan menjadi berkat!

 

Vincent Tanzil, 19 Agustus 2014.

Tulisan ini dimuat pada Dwi Pekan Edisi Khusus Wisuda ke-66/Thn. XXII/ Agustus 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s