Membaharui Hidup di tengah Kebaruan

Plant-Just-Sprouting-Plants-Site-High-Quality-Images

Kita semua senang dengan hal yang baru. Setiap hari hidup kita dihiasi dengan kebaruan, entahkah itu disampaikan melalui televisi atau koran yang kita pegang dan baca. Ada sesuatu yang menggairahkan mengenai sesuatu yang baru itu sendiri. Banyak orang menantikan, misalnya, apa yang akan menjadi kelanjutan dari serial The Dark Knight, Spiderman, X-Men, dan banyak film layar lebar lainnya. Kita sudah memiliki kesan yang baik ketika menonton film-film sebelumnya, maka kita berharap sekuelnya akan lebih baik, atau minimal sekeren film terdahulu.

Hal ini berlaku pula dalam gadget, dan barang-barang elektronik yang turut meriuhkan kehidupan kita. Belum selesai kita menikmati barang sebelumnya, sudah bertaburan edisi-edisi yang lebih kuat, lebih bagus, lebih tajam, lebih indah, dan segala macam kelebihan lainnya. Kita tidak sekadar menantikan kebaruan. Apa gunanya iPhone 6 yang isinya sama saja dengan iPhone 5s sebelumnya, tidak kurang dan tidak lebih? Tentu tidak ada. Bukan sekadar kebaruan yang kita harapkan, namun juga kemajuan kualitas!

Dua hal ini: kebaruan dan kemajuan bisa dikatakan merupakan semangat zaman ini (zeitgeist). Semangat ini merasuki tidak hanya korporat-korporat, namun juga individu-individu. Hampir semua orang tampak berlomba-lomba untuk memajukan diri mereka atau menikmati kebaruan.

Kebaruan itu sendiri tidaklah salah, meskipun ekses-eksesnya dapat dengan mudah disebutkan. Iman Kristen itu sendiri dicirikan oleh pembaharuan dan harapan akan kebaruan. Kisah dunia ini, menurut Alkitab, dapat dirangkumkan dalam empat babak: penciptaan, kejatuhan, penebusan, penciptaan baru. Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi serta segala isinya. Babak selanjutnya diisi oleh kisah tragis kejatuhan manusia yang juga menodai ciptaan yang “sungguh amat baik” ini. Allah di dalam iman Kristen bukanlah Allah yang diam saja melihat kekacauan (chaos) yang tengah terjadi di dunia ini. Carut marut bukanlah kata sifat favorit Allah. Manusia, yang diciptakan segambar dengan-Nya, saling membunuh dan merusak satu sama lain; lahan ciptaan yang semestinya diatur malah dihancurkan; segenap ciptaan yang seharusnya menceritakan kemuliaan-Nya (Mzm. 19) jatuh menjadi arena yang mirip neraka. Syukurnya Allah tidak tinggal diam. Ia sendiri datang ke dunia dan dengan pengurbanan-Nya di kayu salib Ia melancarkan Kerajaan Allah di bumi seperti di surga. Pada akhirnya akan tiba harinya di mana Allah memulihkan segala sesuatu seraya berfirman: “Lihatlah Aku menjadikan segala sesuatu baru!” (Why. 21:5). Babak terakhir inilah yang menjadi pengharapan bagi orang Kristen. Jengah dengan kacaunya kondisi kekinian, kita menantikan kebaruan yang datangnya dari Sang Khalik sendiri.

Kebaruan yang dinantikan itu menjadi semacam mercusuar terhadap kemajuan umat manusia. Tepat sekali bahwa kemajuan tanpa titik tujuan merupakan suatu hal yang rancu sifatnya. C.S. Lewis, penulis seri The Chronicles of Narnia, pernah menyatakan: “We all want progress, but if you’re on the wrong road, progress means doing an about-turn and walking back to the right road; in that case, the man who turns back soonest is the most progressive.”[ C.S. Lewis, Mere Christianity (New York: HarperCollins, 2009), Kindle Electronic Edition: hal. 28.] Tanpa tujuan, kemajuan menjadi tidak berbeda dengan ketersesatan.

Karena itulah orang Kristen tidak asal senang dengan kebaruan dan kemajuan, tetapi orang Kristen mengharapkan adanya kemajuan yang mengarah kepada ciptaan yang baru tersebut. Paulus menasihatkan pembacanya di Efesus untuk mematikan segala kehendak lama mereka yang tercemar oleh dosa “supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya” (Ef. 4:23-24). Artinya: kita tidak hanya dipanggil untuk menantikan kebaruan tersebut secara pasif, namun kita sendiri wajib untuk diubahkan menjadi baru demi menyongsong kebaruan ultimat dari Allah. Di tengah banyak orang sibuk menjadi kritikus akan moralitas masyarakat, orang Kristen harusnya menjadi mercusuar yang bersinar terang. Bukankah ciri khas orang Kristen adalah menjadi “dilahirkan kembali” (Yoh. 3:3)?

Banyak orang sedang menantikan kebaruan, namun orang Kristen hendaknya tidak sekadar terlena tetapi menjadi bagian dari pembaharuan itu sendiri. Semenjak kita mengenal Yesus Kristus, sudahkah ada pembaharuan seluruh aspek kehidupan kita? Marilah kita memeriksa kehidupan kita masing-masing.

 

Tulisan ini diterbitkan dalam majalah Genta UK Petra edisi 148/Oktober 2014.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s