Experiencing God through Reading–Efesus 4:11-15; Mazmur 19:2

10448

Unduh rekaman khotbah ini di sini.

Duduk terdiam sambil memegang sebuah buku dan melahap isinya bukanlah kebiasaan banyak orang pada masa kini. Di tempat-tempat umum di mana ada banyak orang menunggu kita sering melihat orang menunduk memandang layar berpijar seraya menyentuhnya beberapa kali.  Ada yang sedang membalas pesan singkat, ada pula yang sedang menyerbu pertahanan musuh dengan serunya.

Dunia hari ini dipenuhi oleh layar-layar bercahaya.  Mereka menyuguhi kita dengan beragam tampilan.  Menonton DVD berseri atau film lepasan tampak menjadi suatu hal yang wajar dan umum.  Melihat kebiasaan yang demikian, maka orang yang terbiasa membawa buku ke manapun ia pergi semakin terlihat sebagai spesies langka.  Sulit untuk menjadi seorang pecinta buku tanpa mendengarkan selentingan “kutu buku,” “nerd,” bahkan “aneh” sekalipun.

Kalau begitu mengapa membaca buku?  Benarkah membaca buku dapat membawa kita berjumpa dengan Allah?  Bukankah perjumpaan dengan Allah biasa dirasakan melalui puji-pujian dan lagu yang menyentak emosi?  Apa peran buku dalam pengalaman kita bersama dengan Tuhan?  Topik itulah yang hendak kita bahas pada hari ini.

1. Menemukan Tuhan melalui buku-buku pengajar Kristen (Efesus 4:11-15)
Bagian ini menjelaskan kepada kita bahwa Kristus tidak meninggalkan kita sendiri di dunia ini.  Dikatakan pada ayat ini bahwa “Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar.”  Apa maksud dari ayat ini?  Minimal ada dua hal yang bisa kita pelajari, yakni bahwa Kristus sendirilah yang memberikan kepada kita rasul, nabi, gembala, pemberita Injil, dan terutama: pengajar-pengajar.  Kedua, fakta bahwa Tuhan sendiri yang memberikannya kepada kita menunjukkan bahwa kita membutuhkan para pengajar-pengajar tersebut.  Kalau kita membutuhkan pengajar-pengajar, maka yang kita butuhkan bukanlah sekadar nubuatan, penggembalaan dan berita Injil saja, tetapi juga konsep-konsep pengajaran yang benar.

Tentu semuanya ini bisa kita kupas dengan seksama, namun topik hari ini ingin saya fokuskan pada para pengajar-pengajar ini.  Siapakah mereka dan apa yang mereka lakukan?  Para pengajar ini bisa jadi merupakan seseorang yang memang memiliki posisi sebagai pengajar di gereja atau institusi Kristen.  Tetapi kita tahu jelas bahwa karunia pengajaran tidak eksklusif dimiliki oleh mereka yang berada dalam posisi pengajar.  Untuk apakah mereka ini?  Mereka dipanggil “untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus, sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan, tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala.”  Kita melihat bahwa para pengajar ini ada agar orang-orang kudus mampu diperlengkapi dalam pekerjaan pelayanan, menjadi dewasa, kesatuan iman dan pengetahuan yang benar, kedewasaan dan juga tidak terombang-ambingkan oleh pengajaran sesat.  Intinya jelas: mereka ada untuk mengajar dan mengajar menumbuhkan jemaat menjadi dewasa dan siap melayani.  Ketika Kristus naik ke surga, Ia tidak meninggalkan kita sendiri, Ia mengaruniakan para pengajar untuk memberikan kepada kita konsep-konsep yang benar tentang Allah.

Para pengajar tersebut tentu kerap dijumpai sedang mengajar di dalam kelas-kelas atau mimbar-mimbar, tetapi yang tidak boleh kita lupakan adalah mereka juga mengajar melalui buku-buku.  Apabila Tuhan bisa berbicara kepada kita melalui setiap kalimat yang diucapkan di atas mimbar, mengapa Tuhan tidak bisa berbicara kepada kita melalui setiap kalimat yang diucapkan di buku?

Tapi mengapa buku?  Mengapa tidak mendengarkan khotbah dan rekaman pengajaran mereka saja?  Saya tidak mengatakan bahwa buku adalah satu-satunya media yang sah untuk mengalami Tuhan, namun buku memiliki keunikannya tersendiri.  Melalui buku kita dapat mendengarkan pemikiran-pemikiran bukan hanya para pengajar pada hari ini, namun juga pengajar dari berabad-abad yang silam.  Kita bisa berdialog dengan Agustinus yang lahir pada tahun 354 M, yaitu kasarnya 1600 tahun yang lalu!  Bukan hanya Agustinus, namun juga Thomas Aquinas yang dinobatkan sebagai doktor gereja oleh Katolik Roma.  Tak puas dengan mereka, kita sanggup membaca pengajaran dari John Calvin, Martin Luther, dan para tokoh reformasi lainnya.  Lebih mendekati zaman ini kita berkenalan dengan Karl Barth yang disebut juga sebagai bapa gereja abad keduapuluh (ia menulis Church Dogmatics sampai 8676 halaman).  Kevin Vanhoozer, William Lane Craig, N.T. Wright, A.A. Yewangoe, Yonky Karman yang sezaman dengan kita pun bisa kita jumpai pemikirannya.  Memang benar bahwa buku akan melampaui daerah, negara, bahkan zaman sekalipun.

Buku-buku tersebut tidaklah selalu menuntut.  Ketika kita tidak memahami satu atau dua kalimat, maka ia tidak akan tergesa-gesa melanjutkan ke halaman berikutnya.  Ia juga tidak akan memaksa kita untuk meresapi perkataannya dari awal hingga akhir.  Tiliklah bagian-bagian yang dirasa penting bagi kita.  Ia tidak terburu-buru.  Ia senantiasa duduk berjajar rapi di rak buku anda, seperti para dewan tetua yang bijaksana, menantikan saat untuk menumpahkan pemikirannya yang brilian dan teruji ke dalam pikiran anda dan saya.

Mereka yang senang membaca buku juga tentu dapat memahami bagaimana pikiran kita berdialog dengan kritis dan tajam ketika bertemu dengan huruf-huruf cetak tersebut.  Ada yang memberikan tanda pada kalimat yang dianggapnya berbicara.  Ada pula yang memberikan tanda persetujuan atau ketidaksetujuan, ditambah dengan sedikit catatan pinggir dan lipatan di ujung halaman.  Tatkala kita membaca buku, kita tidak sekadar dipampangi oleh tampilan dan imajinasi sesuai dengan apa yang penulis inginkan, namun sang penulis dan sang pembaca bertemu dalam suatu dunia yang unik di mana imajinasi penulis dan pembaca bersatu menjadi sebuah gambaran yang sepenuhnya baru.  Mereka yang membaca novel Harry Potter, misalnya, tentu paham perasaan ini ketika menonton novel tersebut difilmkan.  Hermione di filmnya tampak terlalu cantik untuk diabaikan oleh Ron dan Harry di novelnya.  Imajinasinya tidak klop.  Kita dipaksa untuk melihat sebagaimana Hollywood melihat.  Tetapi tidak demikian dengan huruf tertulis; ia membebaskan imajinasi dan akal.

Tetapi lebih penting dari semuanya itu adalah bahwa membaca buku itu berarti membaca pemikiran-pemikiran yang bukan asal terbit, namun dipikirkan dengan seksama, direvisi dan ditulis kembali.  Berbeda dengan perkataan verbal, tulisan menuntut kita untuk memikirkan, membacanya kembali, serta menyusun kalimat dengan lebih baik.  Hal ini berlaku terlebih lagi untuk buku yang sudah ditulis dengan sangat panjang lebar.

Karena itulah tidak membaca buku berarti meremehkan guru-guru yang telah Tuhan karuniakan bagi kita di dunia ini.  Tuhan telah menyatakan diri-Nya melalui buku dan Ia akan terus meneguhkan serta mengejawantahkan diri-Nya sendiri melalui hamba-hamba-Nya.  Bertemu dengan tulisan-tulisan mereka adalah bertemu dengan ajaran-ajaran yang telah teruji dan terkristalisasi.  Patutkah kita melewatkannya?

2. Menemukan Tuhan melalui buku-buku lainnya (Mazmur 19:2)

Mengalami Tuhan tidak harus dibatasi pada pembacaan buku-buku rohani saja.  Melalui Mazmur 19:2 ini kita memahami bahwa seluruh alam ciptaan ini sebenarnya adalah sebuah teks yang Tuhan ukirkan untuk dibaca.  Manusia yang merupakan gambar Allah pun dikaruniakan imajinasi dan kepandaian untuk menuliskan entah sebuah risalah atau kisah yang mendebarkan jantung dan merangsang intelek.  Karena itu saya tidak ingin menutupi eksplorasi akan kebenaran Allah ini pada buku-buku yang ditulis oleh pengajar kristiani, sebab segala kebenaran adalah kebenaran Allah.  Di manapun gambar Allah berupaya menuangkan akal budinya dengan ketulusan maka kita akan menemukan kilau kebenaran Allah.

Izinkan saya menceritakan beberapa pengalaman saya dengan buku.

Ketika saya sedang kebingungan akan arah, saya membaca kisah mengenai Yap Thiam Hien sang pendekar keadilan.  Tatkala hati saya sedang gundah karena bingung berhadapan dengan orang-orang yang sulit, saya bertemu dengan Piter Randan Bua yang menuliskan The Ahok Way.  Kemarin, ketika saya mempersiapkan khotbah ini, saya menemukan buku yang sudah lama saya miliki tapi belum pernah saya baca.  Buku itu adalah Letters to a Young Pastor yang ditulis oleh Calvin Miller.  Di buku itu saya kembali dihiburkan dengan pernyataannya yang penuh rendah hati, bahwa semua orang, yang terhebat sekalipun, pernah melakukan hal yang bodoh dan konyol.  Itu tentu suatu hal yang melegakan apabila anda sering melakukan tindakan bodoh!  Itulah buku. Ketika teman tidak ada di sisi kita.  Ketika pulsa habis dan internet kos lambat, maka buku akan siap sedia untuk menemani kita, menghibur, menginspirasi, bahkan menggugah kita.  Pada saat-saat itu, kita bersyukur kepada Tuhan bahwa para penulis tersebut telah menuliskannya.

Pada saat saya menjalani praktik kerja lapangan di UK Petra, saya membaca hampir separuh dari buku Wayne Grudem, Introduction to Systematic Theology.  Buku itu benar-benar mencerahkan saya sampai secerah-cerahnya pada waktu itu.  Di lain waktu, saat saya sedang meneliti kembali arah teologi saya, maka saya menemukan Surprised by Hope dari N.T. Wright, salah seorang pemikir besar zaman ini, memuaskan dahaga saya akan teologi pengharapan dan arah misi.  Sejalan dengan Wright, saya menemukan kesegaran baru pula dalam James K. A. Smith, Introducing Radical OrthodoxyThe Drama of Doctrine karya Kevin Vanhoozer.  Bertemu dengan para pemikir-pemikir yang paling tajam dalam dunia teologi Kristen tentunya tidak akan membuat pikiran kita sama lagi.  Sama seperti seorang yang memanjat sebuah gunung; ia yang ketika berada di dasar gunung dan ia yang sudah berada di puncak adalah orang yang berbeda.

Tidak lupa tentunya tulisan-tulisan dari pemikir-pemikir Kristen kawakan Indonesia: Franz-Magnis Suseno, A.A. Yewangoe, Eka Darmaputera, Yonky Karman.  Pergumulan kontekstual mereka dengan Indonesia menolong saya untuk mengarahkan pisau tajam teologi ke tempat yang tepat.

Waktu saya masih mahasiswa, saya berjalan-jalan di toko buku Togamas Solo.  Di sana saya menemukan seorang penulis yang akhirnya akan membelokkan kebiasaan saya dengan demikian rupa.  Apabila sebelumnya saya hanya senang dengan membaca buku-buku berbau apologetika dan teologi, semenjak saya membaca Leo Tolstoy, Tuhan Mahatahu tapi Ia Menunggu, maka saya menemukan aspek lain dari kehidupan rohani.  Bermula dari Leo Tolstoy yang sangat menggugah, saya membaca Les Miserables karya Victor Hugo.  Karya yang satu ini benar-benar menggetarkan jiwa saya sampai sedemikian rupa.  Selain itu karya inilah yang menyikut rasa keadilan dan kemurahan saya.  Masih belum puas dengan karya-karya klasik macam mereka, saya memberanikan diri mengambil The Brother Karamazov dari Fyodor Dostoevsky.  Buku yang menjadi klasik ini benar-benar menggugah keimanan saya.  Tidak hanya itu, Crime and Punishment karya Dostoevsky juga, bagi saya, telah menutup persoalan relativisme etika.

Ingin mengenal karya-karya anak bangsa, saya mulai menghabiskan Bilangan Fu dari Ayu Utami.  Sebuah novel postmodern yang menarik dan menantang.  Indonesia in the Era of Soeharto suntingan Goenawan Mohammad menolong saya melihat pergolakan politis Indonesia, khususnya antara agama dan politik.  Pramoedya Ananta Toer pun saya lahap tetraloginya.  Rasa keadilan saya, sebuah rasa yang timbul karena manusia adalah gambar dan rupa Allah, benar-benar tergerak melalui novel Pram.  Membaca Pram membuat saya lebih memahami kisah Tuhan mendengarkan seruan Israel yang tertindas di Mesir.

Masih banyak lagi buku yang mengubahkan kehidupan saya, tetapi apabila saya menceritakan semuanya, maka yang terjadi adalah untaian eulogi yang tiada berujung.  Saya pikir melalui pengalaman saya yang sederhana ini sudah cukup untuk membuat riak dalam batin kita–setidaknya untuk mengambil kumpulan lembaran kertas dengan cetakan huruf hitam dari rak buku dan memulai perjalanan musafir kita.  Bukan sekadar musafir pengetahuan, namun musafir bagi Allah.  Bersiap untuk dikejutkan melalui perjumpaan-perjumpaan yang tak diperkirakan sebelumnya.

Aplikasi
Kapankah kita terakhir kali bertemu dan berbincang dengan sebuah buku?  Tidakkah kita memiliki kerinduan untuk membenamkan pikiran pada pemikir-pemikir besar dari segala zaman?  Saya ada beberapa tips praktis bagi kita:

1. Jadwalkan waktu untuk membaca buku.  Sediakanlah waktu setiap hari untuk membaca minimal 15 menit saja.  Jadikan ini sebuah disiplin.  Bacalah buku-buku yang menarik bagi anda.  Apabila kita bisa menyisihkan 15 menit saja sehari, maka itu artinya kita bisa menghabiskan sekitar 5-10 halaman tergantung tingkat kesulitan dari buku tersebut.  Dalam waktu sebulan anda akan menghabiskan antara 150-300 halaman.  Sebulan menjadi sama dengan satu buku kecil.  Dalam satu tahun anda akan menghabiskan 12 buku.  Bila sekarang anda berusia 20 tahun, maka ketika anda berusia 50 tahun anda sudah menghabiskan 360 buku!  Belum lagi apabila anda membaca hingga 30 menit lebih.  Selain 15 menit sehari, bisa saja anda mengambil satu hari khusus untuk membaca.  Saya sendiri senang membaca pada hari Sabtu dan Minggu.  Biasanya saya bisa berjam-jam membaca banyak buku sekaligus.

2. Jangan terfokus untuk menghabiskan satu buku secara langsung.  Apabila kita sudah agak jemu dengan isi dari suatu buku, melompatlah ke buku yang lebih menarik bagi anda.  Biarkan api itu terus menyala.  Kipas terus apinya.

3. Bacalah buku yang beragam.  Jangan membiasakan diri hanya membaca buku yang mudah dipahami saja.  Cobalah membaca buku-buku yang mungkin lebih sukar dipahami.  Membaca buku-buku yang lebih sukar tentu membuahkan hasil yang lebih baik pula.  Biasanya kalau kita sudah terbiasa membaca buku-buku yang membutuhkan konsentrasi tinggi kita akan lebih cepat mencerna buku-buku yang lebih sederhana.  Selain itu, biasakanlah untuk membaca novel-novel yang menjadi klasik.  Karena novel lebih ringan, saya biasanya membaca mereka ketika malam sebelum tidur.

4.  Berikanlah buku sebagai hadiah kepada kerabat atau teman kita.  Siapa yang tahu apa yang akan Tuhan perbuat melalui buku tersebut?  Terry W. Glaspey di dalam bukunya A Passion for Books menuliskan: “The right book placed in the right hands at the right time can make a lasting difference.  Few other gifts can make that claim.  When was the last time you received a tie that changed your life?” (Terry W. Glaspey, A Passion for Books, 94). Thomas a Kempis juga menulis, “If he shall not lose his reward who gives a cup of cold water to his thirsty neighbor, what will not be the reward of those who by putting good books into the hands of those neighbors, open to them the fountain of eternal life?” (Thomas a Kempis (quoted in Glaspey, 97)).  Kiranya buku yang baik tidak dibaca sendiri, namun boleh menjadi berkat bagi lebih banyak orang.

Penutup
Allah telah memberikan kepada kita pengajar-pengajar.  Mereka ada untuk menolong kita bertumbuh akan pengenalan di dalam Yesus Kristus.  Buku merupakan sarana terbaik untuk bertemu kembali dengan pengajar-pengajar yang berkarunia ini.  Kalau Tuhan bisa berbicara kepada kita melalui khotbah, puji-pujian, alam semesta, apalagi buku yang ditulis dengan imajinasi gambar Allah sang Khalik itu sendiri.

Ambillah, bacalah, alamilah Tuhan.
Amin.

Dikhotbahkan di:
1.Kebaktian Universitas Kristen Petra, 1 September 2014.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s