Menggapai Prestasi

http://www.enspire.com/wp-content/uploads/2013/10/blog-image-achievements.jpg

Beberapa orang Kristen merasa alergi dengan prestasi, sebab pengunjukan prestasi cenderung menggelincir menjadi kesombongan. Bahkan demi alasan ini beberapa orang Kristen ragu untuk mengikuti perlombaan. Sebab, kata mereka, apabila mereka meraih prestasi maka kecenderungan untuk menjadi sombong semakin tinggi. Tentu hal ini ada benarnya. Sang petinju terkenal Muhammad Ali pernah berkoar, “It’s hard to be humble when you’re as great as I am.” Mungkin kita tidak menyukai perkataan Ali, tapi benar sekali bahwa orang yang paling rawan untuk menjadi sombong adalah mereka yang memiliki prestasi di atas rata-rata.

Lantas, haruskah kita alergi dengan prestasi? Tentu tidak. Kita melihat orang-orang yang memiliki prestasi yang menumpuk, namun tetap rendah hati. Sebaliknya, ada orang yang tidak terlalu memiliki prestasi, tetapi kesombongannya tak kenal ujung. Untuk orang-orang tipe kedua inilah kita memiliki pepatah “tong kosong nyaring bunyinya.” Poinnya adalah: prestasi tidak harus selalu diasosiasikan dengan kesombongan.

Mengapresiasi prestasi adalah kegiatan yang baik. Tatkala bintang di langit dan binatang di lautan sudah rapi tertata di bumi, “Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik” (Kej. 1:31a). Allah juga memberikan apresiasi atas prestasi umat yang melakukan hal yang benar dan baik di hadapan-Nya. Bagi mereka yang mengerjakan talenta yang Tuhan titipkan dengan setia, Allah juga akan berkata “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu” (Mat. 25:23). Alkitab tidak pernah kekurangan pujian bagi mereka yang bekerja keras demi sebuah prestasi. “Pernahkah engkau melihat orang yang cakap dalam pekerjaannya? Di hadapan raja-raja ia akan berdiri, bukan di hadapan orang-orang yang hina” (Ams. 22:29), demikian tutur orang bijak dari Israel. Menggapai sebuah prestasi karena upaya yang benar dan jujur bukan hanya baik, tetapi juga patut diberikan apresiasi yang sepantasnya.

Memang ada masalah yang terjadi apabila prestasi menjadi acuan satu-satunya. Tenggelam dalam mimpi ketenaran diri sambil melupakan aspek-aspek yang sudah dalam posisi genting tentu tidak bijaksana. Yesus menyatakan bahwa tidak semua hal yang bisa dicapai perlu untuk dicapai. “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya. Karena apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?” (Mrk. 8:36-37).

Efek samping lain dari penekanan yang berlebihan kepada prestasi adalah marginalisasi (peminggiran) dari mereka yang kurang memiliki prestasi. Jelas sekali bahwa ini sudah menjadi isu dalam gereja mula-mula. Paulus menyadari disintegrasi yang mulai terjadi dan mengingatkan kepada gereja mula-mula bahwa Allah tidak pernah memilih manusia sekadar berdasarkan kelebihan dan talentanya semata (1Kor. 1:25-31). Allah membongkar hierarki yang dipakai manusia untuk mengukur sesamanya. Ironis apabila pengikut Kristus kembali mengabsolutkan hierarki yang sudah lama dibongkar di dalam darah Kristus. Orang Kristen harus bisa mengapresiasi prestasi tanpa menyebabkan segregasi (pemisahan).

Iman Kristen mendorong pengejaran prestasi, namun pengejaran tersebut harus disertai dengan otokritik (evaluasi diri) yang seimbang. Kritis terhadap diri seraya mengejar prestasi, itulah yang dikejar para pengikut Kristus. Kriteria tidak selalu abu-abu. R. Paul Stevens memberikan kriteria: “Pekerjaan yang baik berarti baik bagi kita, baik bagi sesama kita, baik bagi [ciptaan], dan baik bagi Allah.”[ R. Paul Stevens, God’s Business (terj. Ronisari Sitanggang; Jakarta: Gunung Mulia, 2008), 14.] Ketika seluruh kriteria itu tercapai, maka pujian dan penghargaan sepatutnya meluncur dari bibir kita. Kejar prestasi, hargai prestasi, dan kiranya semua dilakukan tanpa menimbulkan segregasi.

Artikel ini dimuat di Dwi Pekan No. 6/XXIII/18 November – 1 Desember 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s