Pulang

20307

Majalah Genta kali ini mengangkat tajuk “Home Sweet Home,” sebuah kalimat yang biasa disenandungkan seseorang yang pergi sejenak, kembali kemudian.  Ada sebuah rasa rindu yang terbungkus oleh kalimat singkat tersebut.  Ketika nafas dihela dan kehangatan menyentuh kulit, demikianlah “Home Sweet Home” terucap.

Pulang ke rumah merupakan motif yang relatif umum.  Bisa itu karena kerinduan, bisa pula karena kebutuhan, bisa juga karena sebuah panggilan.  Kisah yang diangkat dalam renungan ini adalah kepulangan Nehemia ke tanah asalnya.  Bukan, bukan untuk bernostalgia, tapi untuk sebuah panggilan.  Ia pulang untuk membangun tembok kotanya tercinta.  Semuanya bermula ketika Hanani datang mengunjunginya.  Hatinya terenyuh saat mendengar kabar dari saudaranya tersebut bahwa Yerusalem terpuruk seperti puing.  “Orang-orang yang masih tinggal di daerah sana, yang terhindar dari penawanan, ada dalam kesukaran besar dan dalam keadaan tercela.  Tembok Yerusalem telah terbongkar dan pintu-pintu gerbangnya telah terbakar” demikian laporan Hanani (Neh. 1:3).

Berkabung, menangis, berpuasa, berdoa–semua dilakukan Nehemia.  Ia sedang berada di puri Susan; asing memang, namun nyaman.  Pikiran bahwa ia menikmati segala kenikmatan sementara kampung halamannya menjadi reruntuhan amat mengganggu ritme kehidupannya.  Kabar tentang anggota keluarga yang sedang kesusahan di kota asal biasanya menyesakkan hati perantau.  Nehemia mencintai tanah asalnya; tanah yang dijanjikan oleh Sang Pembebas Israel dari Mesir.  Bangsa dan tanahnya yang dulu indah itu sekarang merana akibat dosa-dosa Israel di masa lampau.  Syukurlah Tuhan menyendengkan telinga-Nya pada jeritan Nehemia.  Di bawah kuasa Tuhan, Koresh, raja Persia pada masa itu, mengeluarkan dekrit agar orang-orang Yahudi dapat pulang dan membangun kota asal mereka (Ezr. 1:1-4).  Mereka bukan pulang untuk bersantai, namun untuk melakukan hal yang berat namun benar: membangun kembali kota Yerusalem, lebih terutama lagi, membangun kembali ibadah kepada Allah Pencipta langit dan bumi.  Kepulangan mereka adalah karena panggilan!

Bahwasanya panggilan tersebut datang dari Tuhan bukan janji bahwa semuanya akan berjalan mulus.  Mereka menghadapi tentangan dari berbagai pihak.  Sekali lagi Nehemia menunjukkan bahwa ia bukan pulang tanpa persiapan.  Ia menghalau dan mengatasi para penentangnya, entah dari dalam atau dari luar.  Akhirnya ibadah kepada Allah dapat dilaksanakan kembali dengan baik.

Pola dari kisah Nehemia sudah cukup jelas: kebutuhan, kemampuan, dan kemauan menjadi resep dari sebuah panggilan.  Apakah yang menjadi kebutuhan dari tempat yang kita tuju?  Kemampuan apa yang dititipkan Tuhan kepada kita?  Berikutnya adalah kerinduan dan kemauan untuk berkata “Oke!” ketika panggilan melangkah keluar dari kenyamanan itu tiba.  Tidak mudah memang, tapi bukan mustahil.

Salah satu pertanyaan yang sering dilontarkan kepada mereka yang kembali ke kota asal mereka adalah, “mengapa pulang?”  Sudah jauh-jauh kuliah, mengapa begitu cepat pulang ke kota asal?  Kalau kita sekadar menjawab “untuk bernostalgia” pastilah kebetahan itu tidak kunjung mampir ke hati kita.  Tetapi kalau panggilan untuk menjawab kebutuhan adalah jawaban kita, maka mantaplah langkah meski angin tidak selalu bertiup ke arah yang dituju.

Kita juga bisa memerhatikan bahwa tidak sedikit jumlah karyawan dan dosen yang kembali ke UK Petra untuk bekerja dan melayani dalam bidang mereka masing-masing.  Dalam hal ini mereka bisa disebut “pulang.”  Tetapi pulang untuk apa?  Apakah pulang untuk bernostalgia?  Tidak.  Apakah sekadar untuk membayar tagihan bulanan?  Semoga tidak.  Salah satu hal yang mampu memberi kita kekuatan di tengah kesibukan dan rutinitas adalah alasan yang berada di balik aktivitas kita.  Bilamana alasan tersebut tidak memiliki kekuatan yang cukup, maka tak ayal manusia akan mudah terombang-ambing.

Untuk para mahasiswa yang sedang mencari lapangan kerja, baiklah ini bisa menjadi pertimbangan dalam mencari lahan pekerjaan.  Bagi mereka yang sudah bekerja di UK Petra, hendaklah ini menjadi pengingat akan alasan mengapa kita berada di sini.

Surabaya, 9 Oktober 2014.

Artikel ini terbit di majalah Genta UK Petra edisi 149 Desember 2014.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s