Makna Hidup

20654

Waktu bergerak terus dengan konstan. Ia seakan tidak peduli kepada manusia yang tak kuasa ingin menahan atau mempercepat lajunya. Bagi beberapa orang waktu yang ada terasa begitu singkat, sementara bagi sebagian lainnya merasa waktu begitu sering terlambat. Tahun demi tahun terus berlalu, tak terkecuali tahun 2014 pun. Kita dipaksa untuk menyongsong tahun 2015 siap atau tidak sedia. Tetapi manusia tidak mau membiarkan dirinya dihanyutkan oleh derasnya arus waktu. Manusia berusaha melemparkan jangkar demi jangkar yang dinamainya momen. Itulah, kata manusia, yang membuat kehidupan ini menjadi bermakna. Demikian, jangkar seperti apa yang sanggup menorehkan makna di tengah arus waktu tersebut?

Tidak jarang seseorang yang sudah mapan menerjangkan dirinya keluar dari kenyamanan demi suatu hal yang lebih besar dari sekadar kemapanan dan kenyamanan. Apa yang mereka cari? Makna hidup. Jelaslah bahwa kebermaknaan hidup tidak dapat ditemukan dari kesuksesan materiil dan sosial semata.

Pencarian akan makna hidup merupakan isu yang cukup genting bagi sebagian besar umat manusia. Victor Frankl merupakan seorang psikiater yang dijebloskan ke dalam kamp konsentrasi Nazi. Usai keluar dari pengalaman paling mengerikan dalam hidupnya, ia menuliskan sebuah buku yang sontak menjadi bestseller di seluruh dunia. Judulnya adalah Man’s Search for Meaning (1946). Di dalam pendahuluan untuk edisi tahun 1984, Frankl menceritakan bagaimana perasaannya ketika ditanyai wartawan mengenai bukunya yang sukses. Ia menulis:

Whereupon I react by reporting that in the first place I do not at all see in the bestseller status of my book so much an achievement and accomplishment on my part as an expression of the misery of our time: if hundreds of thousands of people reach out for a book whose very title promises to deal with the question of a meaning to life, it must be a question that burns under their fingernails.[1]

[1] “Kemudian saya bereaksi dengan menyatakan bahwa pertama-tama saya sama sekali tidak melihat status bestseller dari buku saya sebagai sebuah pencapaian dan prestasi dari diri saya sendiri, namun sebagai sebuah ekspresi dari kesengsaraan dari zaman kita: jika ratusan ribu orang membaca sebuah buku yang judulnya menjanjikan untuk menjawab pertanyaan mengenai makna hidup, maka itu pastilah pertanyaan yang sedang membara di hati mereka.” (Victor Frankl, Man’s Search for Meaning [New York: Pocket Books, 1984], 15).

Kitab Pengkhotbah di dalam Alkitab menuturkan pergulatan yang serupa. Setelah mencapai kekayaan dan kuasa yang tidak terbayang, sang Pengkhotbah masih mengeluhkan kesia-siaan atau kemisteriusan hidup ini. “Keturunan yang satu pergi dan keturunan yang lain datang, tetapi bumi tetap ada. Matahari terbit, matahari terbenam, lalu terburu-buru menuju tempat ia terbit kembali” ujar Pengkhotbah (Pkh. 1:4-5). Masih adakah yang bermakna di tengah segala yang rutin ini? Syukurlah Kristus datang untuk menjadi jawabnya.

Yesus Kristus adalah jawaban dari kekalutan dunia yang terkesan acak dan tak bersahabat ini. Ia datang bukan sekadar untuk menebus dosa manusia, meski tentu itu juga benar. Ia datang ke tengah dunia yang semakin tak berarah, tak bertujuan–tak bermakna–untuk memberikan nilai, tujuan dan makna. Kerajaan Allah yang menjadi seruan paling awal-Nya adalah berita Injil itu sendiri (Mrk. 1:14-15). Seruan ini menandai sikap Allah bagi dunia ini. Allah tidak tinggal diam; Ia sedang bekerja dan Yesus adalah Panji utama yang berkibar “Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia, dan oleh Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya, baik yang ada di bumi, maupun yang ada di sorga, sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus” (Kol. 1:19-20). Buah pendamaian itu adalah keadilan, kebenaran, dan damai sejahtera; damai dengan Allah, damai dengan sesama, damai dengan ciptaan. Umat pengikut Kristus pun diundang untuk melaksanakan misi yang serupa.

UK Petra sebagai institusi pendidikan sudah sewajarnya turut dalam misi itu. Nicholas Wolterstorff, seorang cendekiawan dari Universitas Notre Dame menyatakan:

Umat Allah. saya tahu, tidak dapat memalingkan wajah dari penderitaan [dunia] dan tetap menjadi umat Allah. Dan bila pendidikan Kristen bertujuan membekali umat Allah untuk pekerjaan mereka di dunia, maka pendidikan Kristen pun tidak dapat memalingkan wajah . . . pendidikan Kristen tidak dapat mengajar hanya untuk perkembangan saja; pendidikan Kristen juga harus mengajar untuk penyembuhan dan rekonsiliasi–dan harus melakukannya dalam cara yang menyembuhkan dan mendamaikan. Pendidikan Kristen harus menjadi pendidikan yang mengajarkan keadilan dan perdamaian seraya menampakkan keadilan dan perdamaian.[1]

[1] Nicholas Wolterstorff, Mendidik untuk Kehidupan: Refleksi mengenai Pengajaran dan Pembelajaran Kristen (terj. Lana Asali; Surabaya: Momentum, 2004), 341-342.

Keadilan dan perdamaian tidak hanya menjadi nilai dalam pengajaran, namun juga menjadi ciri khas pendidikan kristiani. Acuan ultimatnya adalah Allah yang menjadi manusia tersebut: Yesus Kristus. Seluruh hidup yang dipusatkan kepada Yesus dan misi-Nya merupakan hidup yang paling bermakna.

Ketika makna hidup tidak bisa datang dari hal-hal yang materiil dan fana, maka jawabannya terletak dalam berpartisipasi di dalam rencana Allah yang kekal tersebut. Sudahkah hidup kita menjadi bermakna di dalam Kristus?

Selamat tahun baru.

Artikel ini terbit dalam Dwi Pekan no. 8/Thn. XXIII 13 Januari – 26 Januari 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s