Salah Fokus

http://cdn.dragosroua.com/wp-content/uploads/2014/11/Wallpaper__Focus_by_KriGH.png

Tidak jarang bagi kita untuk melihat iklan-iklan berbicara mengenai fokus.  Media sosial pun pernah diramaikan dengan tag #salahfokus.  Idenya adalah, ada sebuah hal yang seharusnya menerima seluruh perhatian kita, namun perhatian malah tertuju ke tempat yang justru kurang ditekankan.  Hanya sekadar melihat ke tempat yang tidak ditekankan tentu tidak terlalu bermasalah, namun ketika seluruh pokok pembahasan beralih kepada bagian yang tidak utama, kita bisa menyebutnya sebagai sebuah salah fokus.

Kekristenan merupakan sebuah gerakan keimanan yang mencakup seluruh aspek kehidupan.  Bacalah tradisi kekristenan.  Dengarkanlah sejarahnya.  Lihatlah karya-karya seninya.  Telitilah penemuan-penemuannya.  Kita akan melihat sebuah gerakan keimanan yang tak puas sekadar menyentuh aspek-aspek kehidupan.  Ia baru akan puas ketika tidak ada lagi daerah kehidupan manusia yang luput dari rembesan iman.  Iman kepada Allah yang menjadi Raja meniscayakan sebuah peralihan Kerajaan secara komprehensif.  Biar bagaimanapun juga kita tidak boleh lupa bahwa berita Injil yang dibawakan oleh Yesus, bahkan sebelum Ia mati di kayu salib dan bangkit pada hari yang ketiga, adalah mengenai “Allahmu itu Raja” (Mar. 1:15; Yes. 52:7; bdk. Rm. 10:15).  Kerajaan Allah ini membawa damai manusia kepada Allah, damai manusia kepada sesamanya, damai manusia kepada seluruh makhluk dan alam ciptaan.  Kebenaran, kasih, keadilan, dan damai adalah ciri bahwa kehendak Allah “di bumi” telah menjadi sama “seperti di surga.”

Sebuah proyek perubahan struktur yang kosmis ini tentu dapat dipecah menjadi agenda-agenda kecil yang menunjang gambaran besarnya.  Pekerjaan besar selalu terdiri dari pekerjaan-pekerjaan yang lebih kecil.  Di dalam Kerajaan Allah itu ada proyek pekabaran Injil, perjuangan akan keadilan, kontekstualisasi teologis, spiritualitas yang mendalam, pembelaan terhadap kesalahpahaman, membangun komunitas yang berbeda, menggarami budaya, dst.  Proyek-proyek kecil itu pun juga bisa diuraikan menjadi tugas-tugas yang lebih kecil seperti perjuangan kaum buruh, risalah akademis mengenai teologi kontekstual, retret doa yang khusyuk, pembinaan iman, dsb.  Puzzle yang besar merupakan susunan dari pecahan-pecahan yang kecil.

Proyek-proyek yang dinilai kecil itu sebenarnya tidaklah benar-benar sekecil itu.  Masing-masing sub-proyek bisa menghabiskan seluruh jatah hidup seseorang, sebuah tim, bahkan sebuah organisasi kelas internasional; itu pun masih harus dilanjutkan oleh penerusnya.  Sub-proyek itu membutuhkan sumber daya yang besar.  Ia menuntut fokus.  Di sinilah salah fokus sering terjadi.  Mereka yang berfokus pada spiritualitas mulai menanggalkan aspek keadilan.  Penekanan berlebih pada proyek apologetis melupakan sisi kreatif dan kontekstual dari teologi.  Kontekstualisasi teologi malah tak lebih dari penyaruan berita Injil.[i]

Keadaan semakin runyam ketika individu atau golongan yang berfokus kepada salah satu aspek ini mulai berupaya meniadakan aspek yang lain pula.  Kalimat-kalimat seperti, “pekabaran Injil adalah yang terpenting;” “memperjuangkan keadilan adalah yang terpenting;” “pembelaan rasional lebih penting daripada komunitas yang hangat;” “spiritualitas, bukan pembelaan rasional, adalah tujuan utama gereja Tuhan” saling dilontarkan kepada satu sama lain.  Benarkah bahwa yang satu lebih penting ketimbang yang lain?  Mungkinkah kita menyempitkan pekerjaan Allah di dunia ini menjadi satu bidang saja?  Peluapan tenaga dan waktu yang besar kepada satu aspek bisa membuat seseorang menjadi salah fokus—ia tidak bisa melihat gambaran yang lebih besar.  Sesungguhnya setiap sub-proyek itu dibutuhkan dalam gambaran yang lebih besar.  Bisa jadi masalah tidak terletak pada salah fokus, namun penggunaan bahasa yang cenderung membangun dilema palsu (PI atau keadilan? Teologi atau spiritualitas?).  Entah apa yang menyebabkan seseorang salah fokus, bisa ketulusan, bisa kesempitan pikir, jelaslah bahwa salah fokus itu salah.

Salah fokus tidak terbatas kepada sub-proyek.  Mudah juga untuk menemui orang yang suka menekankan gambaran besar, namun tidak bisa melihat diskusi yang lebih rumit dalam tataran sub-proyek.  Alih-alih mendiskusikan sebuah isu secara serius dan mendalam, ia mengalihkan, kadang dengan keluhan, bahwa itu bukanlah isunya.  Sayangnya ini juga termasuk salah fokus.  Apakah sebuah proyek besar itu kalau bukan susunan sub-proyek?  Adakah sebuah proyek besar yang bisa berjalan tanpa topangan sub-proyek?  Mengingatkan akan gambaran besar tentu hal yang baik dan dibutuhkan oleh gereja sekarang, tetapi penyepelean isu yang lebih kecil bisa jadi bukan atas dasar kesalehan tapi kemalasan berpikir semata.  Memang keselamatan ada di dalam Yesus, tapi bukan berarti pembahasan makna dikaiosune dalam tulisan-tulisan rasul Paulus nihil manfaat, misalnya.

Salah fokus bisa terjadi kepada siapa saja.  Guna tulisan ini sudah tercapai apabila kita setiap hari kritis dengan peletakan fokus kita.  Apakah fokus kita sudah terlalu sempit dan cenderung meremehkan yang berbeda?  Ataukah fokus kita terlalu lebar hingga tidak berguna?  Jangan sampai salah fokus.

Vincent Tanzil

6 Mei 2015

[i] Saya tidak mengatakan bahwa salah fokus ini selalu terjadi, hanya bahwa hal ini mungkin dan pernah terjadi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s