Seorang Sahabat

http://images.medicaldaily.com/sites/medicaldaily.com/files/styles/full_breakpoints_theme_medicaldaily_desktop_1x/public/2013/10/22/coffee.jpg?itok=uTBaFb1E

Berada bersama dengan seorang teman adalah hal yang umum sekali di UK Petra.  Pada saat mahasiswa-mahasiswa berjalan mengarungi selasar, biasanya mereka berjalan bersama satu, dua, atau beberapa orang teman.  Pegawai dan dosen pun tidak jarang ditemukan sedang makan atau berjalan bersama.  Berkumpul bersama dengan kawan-kawan merupakan kegiatan sehari-hari manusia pada umumnya.

Memiliki seorang teman adalah hal yang sangat umum, tetapi tidak demikian adanya dengan memiliki sahabat.  Ada banyak alasan untuk memiliki teman, namun tidak seluruh teman bisa menjadi sahabat.  Kita bisa memiliki teman makan bersama, teman satu kepanitiaan, teman satu program studi, teman satu kantor, bahkan teman-teman dalam media sosial.  Walaupun demikian, tetap banyak manusia yang merasakan sepi meski ia memiliki kawan yang banyak.  Bukan kepada semua orang isi hati boleh ditumpahkan.  Ada yang memahami, ada yang menghakimi.  Sahabat diharapkan sebagai yang memahami ketimbang menghakimi, karena itulah kita merasa nyaman bersama dengan dia.  Tidak cukup hanya memiliki teman saja, seseorang harusnya memiliki sahabat.

Karakteristik seorang sahabat jauh lebih kompleks sekadar seorang teman biasa.  Lahir dan besar di keluarga yang sama tidak menjamin sesama saudara bisa menjadi dekat satu sama lain.  Orang yang riang dan hangat di kampus tidak selalu orang yang sama riangnya ketika berhadapan dengan saudara-saudaranya.  Terkadang sahabat yang baru kita temui di kampus, teman satu organisasi, tempat kerja, malah bisa menjadi lebih dekat dan cocok ketimbang saudara seatap.  Sahabat seperti inilah yang bisa menjadi “lebih karib daripada seorang saudara” (Ams. 18:24b).

Orang-orang berhikmat memandang bahwa memiliki sahabat adalah hal yang sangat penting.  Ini esensial.  Ini prinsip kehidupan.  “Jangan kautinggalkan temanmu dan teman ayahmu. Jangan datang di rumah saudaramu pada waktu engkau malang. Lebih baik tetangga yang dekat dari pada saudara yang jauh” (Ams. 27:10).  Saking pentingnya persahabatan, Amsal sampai mengatakan untuk memelihara hubungan dengan sahabat-sahabat ayah.  Kita tidak selalu tinggal dekat dengan saudara karena itu sangatlah baik apabila memiliki seorang yang dekat pada saat kesulitan.  Tentu mahasiswa dan pegawai yang tidak berasal dari Surabaya sangat memahami ini.

Sahabat yang selalu ada di setiap waktu adalah bagian hakiki dari kehidupan.  Pun demikian, orang bijak dari Israel tidak puas dengan sekadar sahabat yang selalu hadir.  Sebab ada bahaya bahwa kita hanya memilih sahabat yang mirip dengan kita, yang mau memahami kita, dan yang tidak pernah memberikan masukan kepada kita.  Ia adalah sahabat di waktu-waktu senang, namun secara tidak sadar ia menggiring kita kepada kerusakan.  Penulis Amsal berkata, “Lebih baik teguran yang nyata-nyata dari pada kasih yang tersembunyi.  Seorang kawan memukul dengan maksud baik, tetapi seorang lawan mencium secara berlimpah-limpah” (27:5-6).  Maksudnya apa?

Memiliki seorang teman yang mampu mengonfrontasi kita jauh lebih penting ketimbang banyak teman tapi tidak ada kedalaman.  Ada tipe teman-teman yang menyenangkan untuk diajak berjalan-jalan bersama, bermain bersama, dsb.  Tapi mereka yang bisa memberikan teguran untuk memperbaiki diri kita adalah teman yang terbaik yang bisa kita dapatkan.

Kita bukanlah orang sempurna.  Kita cenderung menyukai perkataan-perkataan yang manis dan menyenangkan bagi hati dan telinga saja.  Tetapi orang Kristen tidak dipanggil untuk merasa nyaman dan percaya diri.  Orang Kristen tidak selalu berarti orang yang limpah pujian dan penguatan.  Itu tentu hal yang baik, tapi bukan itu tujuan utamanya.  Tujuan utama orang Kristen adalah untuk menjadi semakin serupa dengan Kristus, sang Gambar Allah yang sejati.  Untuk menjadi semakin serupa maka bukan sekadar pujian yang kita butuhkan, kita juga membutuhkan nasihat, teguran, dan dorongan untuk berubah.  Tuhan pun telah menetapkan salah satu sarananya yang efektif: sahabat.  “Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya” (27:17).  Seorang sahabat adalah seorang yang mengenali kita luar dan dalam.  Ia tidak mudah kita tipu.  Ia pun peduli kepada kebaikan kita.  Karena itu ia menajamkan kita.

Milikilah teman yang banyak, sekelompok sahabat yang akrab, dan beberapa sahabat yang saling menajamkan.

Selamat bersahabat.

Artikel ini terbit dalam Dwi Pekan no. 12/Thn. XXIII 5 Mei-18 Mei 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s