Kompeten bagi Tuhan

https://southernbluestocking.files.wordpress.com/2013/04/woman_writing_at_desk.jpg

Seorang Kristen haruslah dikenal sebagai seorang yang kompeten dalam bidangnya.  Hal ini didasarkan atas dua alasan: takut akan Allah dan keinginan untuk menjadi berkat bagi sesamanya.

Takut akan Allah

Alkitab tidak kekurangan ayat motivasi untuk membuat seseorang rela bekerja keras dan menjadi kompeten di bidangnya.  Ayat yang paling sering dijumpai adalah, “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia” (Kol. 3:23).

Paulus menuliskan ayat ini untuk memperingatkan para budak yang sudah menjadi Kristen pada masa itu untuk tetap bekerja dengan giat, bahkan seperti untuk Tuhan.  Godaan terbesar bagi pekerja upahan adalah bekerja giat hanya ketika pekerjaannya akan dinilai.  Waktu dan upaya yang diberikan hanyalah ala kadarnya, bahkan tak jarang kurang dari seharusnya.  Paulus jelas menyatakan bahwa hal demikian tidak boleh dijumpai dalam pribadi orang Kristen.  Seorang pengikut Kristus yang sejati tidak boleh meninggalkan tanggung jawab yang sudah diembankan kepadanya, karena pada akhirnya semua pekerjaan yang ia kerjakan merupakan pelayanan kepada Tuhan sendiri.

Apabila kita bekerja kepada seseorang yang berposisi tinggi maka kita akan berupaya mati-matian untuk menyenangkan hatinya.  Kita akan bertanya, “apalagi yang bisa saya rubah?  Apakah produk ini sudah memuaskan?”  Tidak henti-hentinya angket evaluasi diedarkan dan direkapitulasi.  Masukan demi masukan diminta.  Untuk apa?  Untuk excellence!  Untuk memenangkan proyek!  Tetapi hal demikian tidak selalu nampak ketika seseorang melayani Tuhan.

Sudah terlalu sering melayani Tuhan dipandang sebagai sebuah motivasi kelas dua, sebuah motivasi yang hanya menjanjikan pelayanan setengah hati.  Tidak jarang seorang pelayan merasa berkeberatan apabila ia harus berkorban lebih demi pelayanannya.  Sementara apabila mengejar sebuah tender atau popularitas tingkat nasional dan internasional, segala upaya diberikan, bahkan keluarga pun kadang dikesampingkan.  Apa yang terjadi?  Hal ini menunjukkan betapa motivasi untuk melayani Tuhan tidak selalu menjadi bahan bakar utama seseorang untuk bekerja keras.  Hal demikian tidak boleh terjadi sambil kita berkata bahwa kita adalah pengikut Kristus.

Motivasi terbesar kita, orang Kristen, seharusnya membuih ketika menyadari bahwa pekerjaannya secara ultimat diperuntukkan kepada Tuhan Pencipta yang telah menyelamatkan, memelihara, dan mengasihi kita—“ketika kita masih berdosa” (Rm. 5:8).  Apabila kita bisa bekerja demikian keras untuk mendapatkan hal yang jelas fana, mengapa tidak demikian pula untuk hal yang kekal?  Alkitab bukannya mengatakan bahwa pelayanan lebih penting dari pada pekerjaan.  Malah lebih dari itu, pekerjaan kita juga adalah pelayanan kita!

Tentu naif untuk mengatakan bahwa kita bisa memberikan segenap upaya dan tenaga untuk setiap pekerjaan yang kita kerjakan.  Memang kita harus membagi waktu dan tenaga sesuai dengan prioritas kita.  Masalah yang dibahas di sini adalah apa yang menjadi prioritas kita selama ini.  Melalui setiap upaya yang kita berikan sebenarnya kita sedang menunjukkan siapakah tuan kita sebenarnya: Allah atau Mamon.

Menjadi berkat bagi sesama 

Alasan kedua yang tidak kalah pentingnya adalah demi menjadi berkat bagi sesama.

Orang Kristen tidak terlahir sebagai orang yang bebas dari dosa.  Malahan banyak orang Kristen hari ini adalah mantan pendosa yang berat.  Seorang mantan pencuri yang telah mengenal Kristus dinasihati oleh Paulus “baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri, supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan” (Ef. 4:28b).  Pekerjaan adalah supaya kita bisa menjadi berkat.

Terkadang ada orang Kristen yang bertanya, apakah yang menjadi kehendak Tuhan bagi pekerjaanku?  Bagaimanakah aku harus memilih pekerjaan?  Sebenarnya Alkitab tidak memberikan kriteria yang rumit.  Apapun yang kita kerjakan, yang baik bagi diri, sesama, dunia, dan Allah, adalah kehendak Tuhan bagi pekerjaan kita.  Ketika pekerjaan yang kita pilih malah membuat orang menjadi semakin tenggelam dalam kerusakan, maka kita harus berpikir ulang mengenai kelayakan pekerjaan itu; ketika pekerjaan membuat kita merusak dan mengeksploitasi manusia, maka motivasi apalagi yang tersisa untuk mempertahankan pekerjaan itu?  Tetapi ketika pekerjaan itu sanggup untuk menjadi berkat bagi sesama, maka janganlah ragu lagi untuk mengerjakannya.  Sambil kita terus memikirkan dan mendoakan kehendak Tuhan yang spesifik dalam kehidupan kita, lakukanlah apa yang menjadi kehendak Tuhan secara umum.

Artikel ini terbit dalam DwiPekan UK Petra / no. 10 / 3 Maret-17 Maret 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s