Berkat Lokal untuk Global

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/c/cb/Railroad_Port_of_New_Orleans.jpg

“Ini barang impor!” Demikian celetuk seorang pedagang ketika ia sedang meyakinkan calon pembelinya.  Setelah proses tawar menawar yang melelahkan, maka ia menutup dialog tersebut dengan sebuah ultimatum yang meyakinkan siapapun juga: “impor!”  Maksudnya jelas: karena ini barang impor maka harganya mahal dan tidak bisa ditawar-tawar lagi.  “Impor” berarti unik dan memiliki nilai lebih.

Apakah segala sesuatu yang diimpor memang memiliki kualitas yang lebih baik tentu bisa diperdebatkan.  Tetapi satu hal yang jelas, untuk memasukkan suatu barang dari luar itu memiliki biaya yang tidak murah.  Untuk mengeluarkan biaya ekstra diperlukan nilai ekstra pula.

Abraham, bapa segala orang beriman, juga dipanggil untuk menyebarluaskan sesuatu yang memiliki nilai ekstra.  Banyak orang menyangka bahwa Abraham hanya diberkati semata karena Tuhan menyukai dia lebih dari banyak orang lain.  Kenyataannya tidak demikian.  Apabila kita memperhatikan pernyataan Tuhan kepada Abraham kita menemukan bahwa “Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat.  Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat” (Kej. 12:1-3).  Berkat yang diberikan Allah kepada Abraham amat berharga dinilai dari berbagai segi, baik secara spiritual (menyembah Allah yang benar), material (kecukupan dari pemeliharaan Tuhan), dan sosial (firman yang menjunjung tinggi kasih, keadilan, dan kebenaran).  Ia diberkati untuk menjadi berkat.

Para pengikut Kristus tidak pernah mengemban sebuah misi yang benar-benar baru.  Mereka melanjutkan apa yang telah diberikan kepada Abraham, yakni pengenalan akan Allah yang benar, hanya kali ini Allah itu dengan segenap kasih-Nya telah menjadi manusia.  Ia menjadi manusia bukan sekadar untuk mati di kayu salib, namun merombak seluruh tatanan sosial; yang buta melihat, yang lumpuh berjalan; wanita yang dipandang sebelah mata, dibukakan matanya untuk menjadi saksi kebangkitan; simbol kutukan dan pemberontakan–salib–menjadi simbol kemenangan dan kasih; di dalam Kristus tidak ada lagi pembedaan budak dan tuan, Yunani atau Ibrani, kaya atau miskin.  Singkatnya, Allah telah menjadi Raja dan Ia hendak menjadikan segala sesuatu baru.  Maka perintah-Nya seusai menyelesaikan misi mahaberat tersebut, “”Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Mat. 28:18-20).  Inilah kabar sukacita yang telah lama dinantikan bangsa-bangsa.  Sekali lagi, diberkati untuk menjadi berkat.

Karena itulah setiap orang Kristen hendaknya memiliki sebuah kerinduan untuk berdampak dalam seluruh lini kehidupan manusia.  Tidak ada pemisahan tajam antara “dunia” dan “surgawi” lagi, sebab keduanya hendak dijadikan satu “di bumi seperti di sorga.”

Ini bukan berarti iman Kristen menjadi terpaku terhadap suatu kebudayaan tertentu, seperti greko-romawi, misalnya.  Jauh dari pada itu, justru iman Kristen menembus masuk ke dalam suatu budaya, menggeliat di dalamnya, mengubah dan mentransformasi semuanya menjadi baru.  Visi Yohanes di pulau Patmos adalah pemulihan segala sesuatu di mana “… kekayaan dan hormat bangsa-bangsa akan dibawa kepadanya” (Why. 21:6).  Kehormatan dan kekayaan bangsa-bangsa (bukan tunggal!) juga dipedulikan oleh Allah.

Karena itu sudah semestinya orang Kristen dari Indonesia tidak merasa malu atas identitas keindonesiaannya.  Malah sewajarnya ia mempersembahkan keunikannya dalam masyarakat global melalui kelokalan yang sudah mendarah-daging tersebut.  Berkat kebudayaan dari Allah tidak pernah dimaksudkan untuk dinikmati sendiri, berkat itu lokal tapi untuk global.

Artikel ini terbit dalam Dwi Pekan No. 4/ Thn. XXIII 21 Oktober – 3 November 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s