Formasi dan Informasi

smithing

George Orwell pernah menuliskan tentang pengalamannya bersekolah dalam buku The Road to Wigan Pier:

Saya pikir tidak ada tempat di dunia ini di mana keangkuhan itu sangat sangat hadir di mana-mana dengan bentuk yang halus dan beradab seperti di dalam sekolah umum Inggris.  Di sini seseorang setidaknya tidak dapat berkata bahwa ‘pendidikan’ Inggris gagal melaksanakan pekerjaannya.  Anda melupakan Latin dan Yunani dalam beberapa bulan setelah meninggalkan sekolah—Saya mempelajari Yunani selama delapan atau sembilan tahun, dan sekarang, dalam usia tiga puluh tiga, saya bahkan tidak dapat mengulang alfabet Yunani—tetapi keangkuhanmu, kecuali anda dengan gigih mencabut akarnya seperti rerumputan liar, tetap bersamamu sampai kuburanmu.[i]

Permenungan Orwell tentu jelas.

Di masa semua orang berpikir pendidikan adalah persoalan penyaluran pengetahuan semata, bahkan beberapa sekadar demi meraup gaji besar, Orwell seperti banyak pemikir lain menemukan bahwa pendidikan tidaklah sekerdil itu.  Seseorang dapat dengan mudah melupakan apa yang dia pelajari di kelas.  Tidak sulit untuk menemukan seorang mahasiswa yang melupakan apa yang diajarkan dosennya segera setelah wisuda.  Pun demikian, ada sesuatu yang terus bertahan dalam diri seorang mahasiswa.  Sebuah pembentukan yang tidak ia sadari sedang terjadi dalam dirinya.  Mungkin alam pikirnya tidak dikonsentrasikan untuk menganalisa perubahan ini (karena itulah timbul pernyataan seperti “kuliah tidak berguna”), namun ia lulus dengan sebuah pola pikir dan sikap hidup yang berbeda sama sekali.  Belum tentu yang ia ingat adalah pelajaran yang disampaikan di kelas.  Bisa jadi, seperti Orwell, sebuah sikap telah ditanamkan tanpa sadar di dalam dirinya.

James K. A. Smith, profesor filsafat di Calvin College, menjabarkan pendidikan sebagai salah satu ritual keagamaan yang membawa pengikutnya untuk memvisikan kehidupan yang baik.  Tidak ada pendidikan yang netral.  Pendidikan bukanlah penyaluran informasi, namun sebuah proses formasi.

Satu universitas tidak menjamin satu dunia pikir.  Di dalam sebuah kampus seseorang dapat menemukan dunia para dosen atau disebut oleh Smith sebagai Akademi.  Pokok bahasan mereka adalah bagaimana informasi dan keahlian yang terbaik dapat diberikan kepada mahasiswa.  Temuan-temuan terbaru dalam bidang keilmuan masing-masing sanggup menggairahkan suasana.  Berbeda (sayangnya) dengan apa yang terjadi di dalam dunia mahasiswa.  Mahasiswa, meskipun merupakan bagian dari universitas, memandang kampus sebagai sebuah tempat untuk berkomunitas, kepanitiaan, UKM, berteman, dan mencoba hal-hal baru.  Kehidupan utama mahasiswa sebenarnya terjadi di tempat kos, mal, kafe, depot, dan pesta-pesta yang ada di sekeliling kampus atau kota di mana kampus berdiri.  Desain pakaian terbaru, tempat nongkrong terasyik, film layar lebar terbaik menjadi pokok bahasan yang penuh semangat.  Pendidikan yang meliputi penyebaran informasi tampak minim dalam kehidupan seorang mahasiswa menurut Smith.[ii]

Karena itu pendidikan tidak bisa lagi menjadi sekadar tempat penyebaran informasi.  Selagi universitas memikirkan bagaimana cara menyampaikan informasi dengan tepat dan mutakhir, keseluruhan sikap dan nilai yang hendak disampaikan kadang justru menjadi terbalik.  Tentu saja memikirkan penelitian terbaru, pembawaan kelas, teknologi pendidikan, dan fasilitas kampus adalah sebuah keniscayaan yang teramat baik bagi kampus, namun apa yang tidak tertulis di kurikulum juga merupakan sebuah proses formasi bagi para mahasiswa yang berpartisipasi di dalamnya.  Apa yang dipandang baik oleh dosen dan staf, cara menyikapi sebuah masalah, sikap kepada tindakan ketidakjujuran, interaksi di dalam ataupun di luar kelas—semuanya merupakan proses formasi.  Sudahkah keseluruhan proses formasi tersebut mewujudkan nilai-nilai Kerajaan Allah?  Apabila iya, maka sebuah formasi yang awet telah terjadi dengan baik.

Dengan demikian sudah sewajarnya mahasiswa dan dosen yang menjunjung Kristus sebagi Pandunya bersikap kritis terhadap kondisi kampus dan dunia sekitarnya.  Jangan sampai kita menerima informasi yang benar, namun dibentuk secara keliru.  Kita dipanggil untuk dibentuk serupa Allah bukan serupa dunia.  Hendaknya setiap kita memerhatikan tulisan Paulus: “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna” (Rm. 12:2).

[i]I suppose there is no place in the world where snobbery is quite so ever-present or where it is cultivated in such refined and subtle forms as in an English public school. Here at least one cannot say that English ‘education’ fails to do its job. You forget your Latin and Greek within a few months of leaving school — I studied Greek for eight or ten years, and now, at thirty-three, I cannot even repeat the Greek alphabet — but your snobbishness, unless you persistently root it out like the bindweed it is, sticks by you till your grave.”

[ii] James K. A. Smith, Desiring The Kingdom: Worship, Worldview, and Cultural Formation (Grand Rapids: Baker, 2009), 112-129.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s