Berbagi Ilmu

http://i.imgur.com/6vdBxnq.jpg

Some seek knowledge for

The sake of knowledge:

That is curiosity;

 

Others seek knowledge so that

They themselves may be known: that is vanity;

 

But there are still others who seek knowledge in

Order to serve and edify others:

And that is charity

–Bernard of Clairvaux (1090-1153)


Mencari pengetahuan adalah sifat dasar dari manusia.  Semenjak dari kecilnya manusia sudah menunjukkan sebuah keinginan untuk mengetahui sesuatu.  Ketika bahasa sudah di dalam genggaman, maka terkadang orang tua sampai kewalahan bagaimana menjawab setiap “apa itu?” yang keluar dari mulut sang anak.  Segala sesuatu di dunia ini tampak baru dan menarik bagi anak.  Bagaimana ini terjadi?  Mengapa kita berada di sini?  Mengapa mobil bisa begitu kuat padahal ia hanya minum?  Bagaimana cara pesawat bisa terbang?  Seluruh rangkaian pertanyaan ini menghantar kemanusiaan secara umum untuk berpikir dan meneliti.  Bukan hanya meneliti, manusia juga mengajarkannya kepada siswa-siswa.  Tidak cukup hanya meneliti dan mengajar, ada juga penyemaian hasil penelitian kepada masyarakat luas.  Semua ini dilandasi oleh sebuah kecenderungan yang kuat untuk mengetahui, mengajar, dan membagi.

Manusia memang terlahir untuk mengeksplorasi dunia ini.  Tatkala seluruh ciptaan sudah diatur-Nya sedemikian rupa, “Berfirmanlah Allah: ‘Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi’” (Kej. 1:24).  Setelah manusia selesai diciptakan, perintah pertama yang diberikan oleh-Nya adalah, “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi” (Kej. 1:26).  Dari dua teks ini dapat disimpulkan bahwa Allah menciptakan manusia serupa dengan diri-Nya, serta keserupaan dengan-Nya berkorelasi erat dengan proyek memenuhi bumi dan menaklukkan-Nya.

Manusia memang makhluk yang sangat unik.  Berpikir reflektif dan kreatif merupakan ciri yang hanya bisa ditemukan dalam diri manusia.  Manusia bisa membuat konferensi yang berjudul “Apa Artinya Menjadi Manusia” sementara spesies lain tidak ambil pusing.  Manusia pun terkenal dengan kemajuan dan perkembangannya.  Ia tidak puas sekadar menjalani segala sesuatu yang stagnan.  Penemuan demi penemuan bergulir dari laboratorium dan pikiran yang jenius.  Demikian pula seni dalam berbagai bentuknya.  Karya seperti Beethoven, bahkan musik serta tarian tradisional pun sangat memesona.  Tidak hanya itu, beberapa bahkan sanggup memiliki imajinasi untuk menciptakan dunianya sendiri.  Siapa yang tidak kenal dengan The Lord of the Rings yang merupakan kisah makhluk-makhluk imajinatif yang bertempat di Middle Earth tersebut?  J.R.R. Tolkien menjadi termasyhur karena kemampuannya menciptakan sebuah dunia yang tidak ada menjadi ada, bahkan dicintai oleh jutaan orang dan lintas generasi.  Apa yang membuat manusia berbeda sedemikian drastis dari hewan lain?  Jawaban dari Kitab Suci adalah karena kita dibuat segambar dan serupa dengan Allah yang kreatif.  Kemampuan manusia untuk berpikir dan mencipta merupakan turunan langsung dari Allah yang rasional dan kreatif.

Semua kemampuan ini tidak diperuntukkan bagi diri sendiri, namun untuk dikembangkan dan dibagikan.  Menyebut bahwa manusia adalah gambar dan rupa Allah berarti menyematkan sebuah tanggung jawab kepada kemanusiaan.  Manusia tidak hidup sekadar untuk memenuhi kepuasan intelektualnya saja atau sekadar memuaskan nafsu untuk mendominasi bumi ini tanpa tanggung jawab yang jelas; ia dipanggil untuk melayani Tuhan dan sesamanya.  Apabila manusia mengingat mengapa ia diciptakan di bumi ini maka perintah untuk memenuhi bumi ini menjadi lebih masuk akal.

Tri Dharma Perguruan Tinggi, yang berisi (1) pendidikan dan pengajaran; (2) penelitian dan pengembangan; (3) pengabdian pada masyarakat, mewakili aspirasi terdalam dari pencarian manusia akan pengetahuan.  Ketiga “Dharma” yang dicantumkan di dalamnya merupakan rangkuman dari cita-cita sebuah universitas didirikan.  Sejalan dengan itu, maka mereka yang mengikut Kristus dan mencintai pengetahuan hendaknya turut bersama-sama mendidik, meneliti, dan terutama mengabdi—sebagai perwujudan dari keserupaan dengan Allah dan pelaksanaan mandat-Nya.

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s