Pertumbuhan yang Utuh

Arthur Ashe

Memiliki penyakit yang mematikan tidak membuat Arthur Ashe, seorang petenis kulit hitam pemenang Grand Slam, menjadi orang yang pahit dan putus asa.  Bukannya berbalik dan mempertanyakan keadilan dari Tuhan yang ia junjung, ia tetap teguh dengan imannya.  Ia bukannya menjadi seorang yang teguh secara iman di kala semuanya baik-baik saja.  Ia menjadi seorang teladan manusia rohani yang teguh tatkala semua berjalan sebaliknya.  AIDS memasuki saluran darahnya.  Di tengah semuanya itu ia tidak mengeluh dan merengek bahwa hidup ini tidak adil.  Jauh dari itu, ia malah menyatakan ucapan syukurnya kepada Tuhan bahwa ia diberikan kesempatan untuk memenangkan Grand Slam sebanyak tiga kali dalam karier tenisnya yang singkat.  Padahal ia tahu bahwa ada ribuan petenis lainnya yang berlatih dan bertanding demi kemenangan tersebut.  Ia tidak pernah bertanya kepada Tuhan mengapa ia yang menjadi pemenang, mengapa ia harus bertanya kepada Tuhan mengapa ia yang mendapatkan penyakit ini?

Arthur Ashe adalah sebuah contoh besar bahwa seorang yang memiliki kompetensi yang tinggi tidak harus selalu menjadi seorang yang lemah iman, demikian pula sebaliknya tidak seharusnya seorang yang kuat iman lantas beralasan untuk tidak bertumbuh di sisi lain kehidupan.  Jelas bahwa Ashe bukanlah satu-satunya contoh dari pengikut Yesus yang demikian.  Ia hanyalah segelintir orang dari sekian banyak manusia yang merujuk Yesus sebagai panutan tertingginya.

Iman Kristen adalah iman yang merembes ke segala sisi.  Sesungguhnya kekristenan tidak boleh menjadi iman yang sekadar peduli kepada sisi spiritualitas saja.  Malahan spiritualitas yang membuat seseorang tidak bertumbuh di tempat lain adalah spiritualitas yang asing bagi kekristenan.  Kekristenan menjunjung pertumbuhan yang holistis sebagaimana dijabarkan Lukas 2:40, “Anak itu (Yesus) bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya.”  Tentu ayat itu saja tidak cukup untuk menandaskan kepedulian Kristen kepada seluruh aspek kehidupan.  Yesus pun menunjukkan dalam pelayanan-Nya bahwa Ia tidak hanya peduli kepada aspek spiritualitas dari pendengar-Nya.  Ia menyembuhkan, mengajar, memberi contoh, menegakkan kebenaran, menyerukan keadilan, dan tentunya membawa orang kepada Allah.  Kekristenan wajib untuk memandang pertumbuhan secara utuh.  Spiritualitas yang benar adalah yang seturut dengan pertumbuhan Yesus itu sendiri: utuh.

Apabila Yesus telah menunjukkan bahwa pertumbuhan itu tidak boleh parsial sifatnya, maka sebagai institusi pendidikan Kristen sudah sepatutnya pertumbuhan yang diupayakan tidak kurang dari itu.  Pendidikan tidak lagi sekadar menaburkan informasi agar para peserta bisa bertambah secara pengetahuan saja, namun dilengkapi juga oleh praktik-praktik yang menyuburkan karakter kristiani.  Tidak hanya berbicara soal karakter dan intelektual, pertumbuhan Kristen pun meliputi aspek fisik, yakni kesehatan.  Menyatakan hal ini bukan berarti sebuah institusi tidak boleh memiliki peran yang lebih utama.  Beragam institusi ada untuk menyirami aspek-aspek yang berbeda.  Ada yang menekankan intelektual, ada yang kesehatan, ada yang berupa hikmat, dan seterusnya.  Hal yang tidak boleh terlupakan adalah jalinan holistis bahwa semuanya ini merupakan bagian dari pertumbuhan Kristen.

Sebagai orang Kristen hari ini amatlah baik untuk merenungkan sisi-sisi pertumbuhan kita.  Benarkah kita sudah bertumbuh secara holistis?  Apakah kita menyepelekan kesehatan demi pelayanan ataukah meniadakan pembelajaran Alkitab dengan alasan kesibukan; hal demikian, saudara-saudaraku, tidak boleh terjadi.  Apabila pertumbuhan sudah mulai pincang, amat bijak untuk mulai menilik sisi-sisi yang terlupakan dari keseharian kita sebagai pengikut Yesus.  Marilah kita bertumbuh menjadi manusia yang utuh sebagaimana dicontohkan oleh Gambar Allah yang sejati itu.

Tulisan ini terbit di Dwi Pekan Universitas Kristen Petra no. 2/ Thn. XXIV/ 22 September – 6 Oktober 2015, edisi Dies Natalis ke-54.

*Tulisan ini terinspirasi oleh khotbah Rachmat Zakaria Mustika dalam Dies Natalis ke-54 UK Petra.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s