Reformasi dan Para Tokohnya (Bagian 1)

Jeorg_Breu_Elder_A_Question_to_a_Mintmaker_c1500

Kata “sejarah” tidak selalu ditanggapi dengan sorak-sorai.  Tidak jarang malah pembicaraan mengenai sejarah dicirikan oleh orang yang menguap bosan.  Detil nama, tanggal dan tahun kejadian tidak menggairahkan bagi banyak orang hari ini.  Tapi ini merupakan kesalahpahaman dalam memahami sejarah.  Sejarah tidak harus dipahami sebagai hafalan akan tahun, tanggal, nama seperti yang biasa dipelajari dalam kelas.  Sesungguhnya, semua orang selalu memanfaatkan sejarah.  Bagaimana maksudnya?

John Wycliffe http://ichef.bbci.co.uk/images/ic/1200x675/p01h4j9s.jpg
John Wycliffe
http://ichef.bbci.co.uk/images/ic/1200×675/p01h4j9s.jpg

Manusia senang dengan cerita.  Hal ini terbukti dari kebudayaan manusia sejak paling awal pun mereka memiliki koleksi cerita.  Hari-hari ini pun khotbah yang menggugah bisa segera terlupakan, namun cerita dalam khotbah tersebut bisa diingat sampai masa tua.  Manusia, sebagai gambar dan rupa Allah, bukanlah semata-mata makhluk kognitif yang mampu menelaah konsep-konsep yang dalam—itu tentu adalah karunia yang indah pula!—tetapi manusia pada dasarnya adalah makhluk yang senang dengan cerita.  Perhatikanlah Alkitab kita, bukankah isinya penuh dengan cerita?

Cerita bukanlah sekadar pengantar sebelum tidur atau penghibur di kala bosan.  Memang cerita bisa berfungsi seperti demikian, namun ada hal lain yang bisa diberikan oleh cerita: identitas.  Dalam obrolan sehari-hari terkadang kita jumpai perkataan seperti, “kita ini orang yang lahir dan besar di Indonesia, maka . . .” atau “dahulu kakek datang ke Indonesia dengan impian untuk . . .” bahkan perusahaan-perusahaan besar hari ini pun merasa berkepentingan untuk menjelaskan kisah bagaimana terbentuknya perusahaan tersebut.  Implikasi yang diberikan biasanya berbentuk “karena dulu begini, maka sekarang harusnya begitu.”  Gunanya adalah untuk menempatkan diri kita dalam sebuah kisah yang lebih besar.  Kita tidak datang tiba-tiba dalam dunia ini tanpa konteks.  Sejarah mengingatkan siapakah kita di tengah sebuah kisah raksasa yang tengah bergulir.  Itulah fungsi dari sejarah.  Sebenarnya sejarah pada bentuknya yang paling dasar adalah sebuah cerita.  Adanya nama-nama, tanggal, dan tahun sebenarnya hanya untuk menjamin bahwa kisah ini bukanlah rekayasa semata dan mudah ditelusuri kembali.  Jangan menganggap tulisan ini sebagai risalah sejarah yang perlu dihafal dan diujikan dalam ujian, namun nikmatilah cerita ini untuk lebih memahami identitas kita hari ini.

Pernahkah kita merenungkan secara khusus mengapa kita disebut Kristen “Protestan?”  Mengapa gereja kita sangat menekankan pada pembacaan dan penguraian Alkitab?  Mengapa kita tidak memiliki bilik untuk pengakuan dosa?  Mengapa setiap orang Kristen hari ini didorong dengan sangat untuk membaca Alkitabnya sendiri?  30 Oktober yang senantiasa diulang gereja inilah yang menjadi titik tolak semua hal yang kita lakukan di gereja Protestan hari ini.

The reformers http://survivingchurch.org/wp-content/uploads/2015/03/reformation-image.jpg
The reformers
http://survivingchurch.org/wp-content/uploads/2015/03/reformation-image.jpg

Dalam dua edisi ke depan kita akan membahas tiga tokoh yang sangat memengaruhi gereja Protestan hari ini: Martin Luther, Ulrich Zwingli, dan John Calvin.  Ketiga orang ini merupakan tokoh-tokoh yang mengobarkan serta mengokohkan semangat protestanisme seperti yang kita kenal hari ini.  Harapannya pembelajaran dari ketiga tokoh ini mampu mengingatkan akan siapa kita hari ini dan di dalam tradisi apa kita berdiri.  Bukan hanya untuk diingat saja, tetapi lebih lagi untuk dijadikan inspirasi dalam menjalani kehidupan ini.  Tentu saja tradisi tidak diajarkan untuk diulang secara kaku (kaum Protestan cenderung alergi dengan tradisi), namun demikian bukan berarti tradisi tidak penting sama sekali.  Coretan awal ini berfungsi untuk memaparkan latar belakang atau setting dari tokoh-tokoh yang akan dibahas.  Saya akan berusaha untuk menjelaskan mengapa sebuah reformasi sampai diperlukan dan terjadi dalam kekristenan.

Latar Belakang Reformasi

Sebenarnya kesadaran untuk mereformasi gereja sudah kentara bagi banyak orang sejak sebelum abad ke-15.  Sogokan, intrik-intrik, perang, dan hal-hal tidak bermoral lainnya sudah menjadi karakteristik umum kepausan dan gereja pada masa itu.  Korupsi di dalam gereja tampak sudah mewabah hingga sulit diobati.  Kalau hari ini terjadi lelang jabatan di kalangan politikus negara, demikian pula terjadi lelang jabatan di dalam gereja.  Meskipun kehidupan selibat (tidak menikah) tetap menjadi aturan umum gereja, namun banyak uskup dan imam yang tanpa malu-malu melanggar aturan.  Beberapa di antara mereka punya anak yang tidak sah.  Biara-biara menjadi tempat yang sangat mewah dan nyaman untuk ditinggali.  Urusan keuangan gereja sudah nyata korup.  Sulit untuk menjadi seorang imam yang teguh dan lurus pada masa seperti itu.

Bukan hanya gereja gagal secara moral, namun gereja juga banyak dilihat gagal secara ajaran oleh banyak orang terdidik pada zaman itu.  Beberapa orang yang peka secara doktrinal mulai menyadari bahwa gereja perlu memeriksa kembali ajarannya, apakah masih sesuai dengan Alkitab atau tidak.  Ini bukanlah baru, apalagi radikal.  John Wycliffe (?-1384) dan John Huss (1362-1415) pernah mencoba untuk mereformasi gereja, namun tidak semuanya ditanggapi dengan baik, malah dengan sangat negatif.   Wycliffe pernah dipenjara, Huss malah dibakar sampai mati dan abunya dibuang ke sungai supaya tidak ada yang tersisa.  Ini tentu melukiskan dengan jelas bagaimana sikap gereja terhadap perlawanan!  Walaupun ada orang-orang yang berusaha untuk mereformasi gereja, namun mereka ciut juga menghadapi reaksi balasan yang demikian keras.  Perlu diingat bahwa pada masa itu keselamatan dikaitkan erat dengan keanggotaan gereja.  Dikeluarkan dari gereja (ekskomunikasi) merupakan tindakan yang sangat mengerikan bagi orang pada zaman itu.  Jadi ancamannya bukan sekadar mati jasmani (dengan perlahan dan menyakitkan), tetapi juga mati kekal.  Terkadang pejabat negara pun takut dengan kekuasaan gereja.

John Huss https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/e/e9/Jan_Hus_2.jpg
John Huss
https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/e/e9/Jan_Hus_2.jpg

Sudah pasti sikap gereja yang seperti ini tidak perlu diulang, pun demikian ada beberapa hal yang bisa dipetik.  Ada yang mengatakan bahwa kekuasaan absolut secara absolut membuat korup.  Kita hidup di dalam dunia yang terkena dampak dosa secara menyeluruh, termasuk di dalamnya gereja.  Apa sih gereja itu?  Gereja adalah kumpulan orang-orang berdosa yang dipanggil oleh Tuhan untuk menjadi alat Kerajaan-Nya—sayangnya mereka sering kali gagal seperti Israel, pendahulunya.  Berpikir bahwa gereja adalah kumpulan orang yang sudah sempurna merupakan idealisme yang naif.  Orang awam maupun pelayan Tuhan bisa dan pernah jatuh.  Tetapi Tuhan tidak pernah membiarkan gerejanya jatuh hingga terpuruk.  Ia telah membangkitkan orang-orang yang pelayanannya diperingati tiap 30 Oktober itu.  Nantikanlah kisah Tuhan yang hendak mereformasi gereja-Nya!

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s