Reformasi dan Para Tokohnya (Bagian 2)

92821449

Martin Luther (1483-1546)

Martin Luther http://westernjournalismcom.c.presscdn.com/wp-content/uploads/2014/10/6152526123_3063544ae4_b1.jpg
Martin Luther
http://westernjournalismcom.c.presscdn.com/wp-content/uploads/2014/10/6152526123_3063544ae4_b1.jpg

Untuk melihat tulisan sebelumnya tentang reformasi klik di sini.

Martin Luther adalah pribadi yang selalu menjadi sorotan pada masa lampau, bahkan hingga hari ini.  Apabila pria Jerman ini tidak memiliki keberanian untuk melakukan apa yang dia lakukan, maka gereja Protestan, bahkan gereja Katolik Roma seperti hari ini tidak akan ada.

Sekalipun demikian bukan berarti bahwa Luther adalah seorang yang bebas dari cacat.  Mungkin beberapa poin yang dikemukakannya dahulu terdengar ekstrem hari ini.  Pun demikian, langsung bertendensi negatif terhadap seorang tokoh besar hanya karena satu dua kesalahan adalah resep untuk tidak belajar dari siapa pun.  Di dunia ini tidak ada tokoh yang murni sempurna kecuali Yesus sendiri.  Dua posisi buruk untuk belajar adalah terlalu mengidolakan sampai buta akan kelemahannya atau terlalu fokus pada kelemahan hingga kebaikannya tidak diperhitungkan sama sekali.  Malahan banyak pergerakan di dunia ini dimulai oleh pribadi-pribadi yang dengan berani melangkah tanpa selalu dipusingkan oleh kemungkinan gagal atau terlalu digalaukan oleh kecacatan karakternya.  Lebih menyedihkan adalah orang-orang yang begitu takut gagal hingga tidak pernah melakukan apa-apa di dunia ini.

Martin Luther lahir di Eisleben, Jerman pada tahun 1483.  Ia dibesarkan dengan cukup disiplin dan bisa jadi terkadang kelewat keras juga.  Harapan orang tuanya adalah agar ia menjadi seorang pengacara yang baik di bidang hukum.  Itu bukanlah ide yang menyenangkan bagi Luther.  Ada kemungkinan masuknya Luther ke dalam biara sebenarnya merupakan salah satu bentuk pelariannya.  Tetapi mungkin itu hanya salah satu motivasi sampingannya, sebab tampak dari pergumulan tulisan-tulisan Luther bahwa ia juga sangat mengkhawatirkan kondisi keselamatan dirinya sendiri.  Luther muda pernah sangat ketakutan oleh badai petir hingga bersumpah kepada Santa Anna bahwa ia akan menjadi seorang rahib.  Sumpahnya itu akhirnya dipenuhi dengan masuk ordo Agustinian pada usia 22 tahun.

Semenjak awal Luther sudah memiliki perasaan hormat yang sangat mendalam kepada Tuhan, bahkan boleh dibilang bahwa sebenarnya ia sangat takut seperti seorang hamba kepada rajanya.  Ia sangat dikuasai oleh ketakutan dan perasaan tidak layak untuk menerima keselamatan dari Allah.  Betapapun ia terus menghitung dosanya untuk diakui dan memohon pengampunan dari gereja, yang terjadi bukannya perasaan lega, namun malah ketakutan bertambah.  Ia semakin melihat bahwa hati dan pikirannya dipenuhi oleh dosa yang mendalam.  Tahun 1515, pada saat sedang mempelajari surat Roma, ia menemukan kebenaran yang akhirnya mengubahkan seluruh hidupnya.  Kebenaran itu adalah bahwa Tuhan tidak lagi memandang manusia sebagai makhluk berdosa yang layak untuk menerima penghukuman—sebagaimana Luther selalu memandang dirinya—namun kebenaran Kristus dilimpahkan kepada orang berdosa agar ia menjadi benar di hadapan Tuhan.  Ini merupakan sebuah kelegaan yang dahsyat bagi Luther yang telah menghabiskan hidupnya untuk menghindari penghukuman Tuhan.  Bayangkan apabila kita berhutang begitu banyak kemudian ternyata hutang tersebut sudah dihapuskan.  Alasan untuk menjadi takut tidak ada lagi.  Kebebasan nurani telah tiba.  Luther merasa terbebas, tapi ia tidak menyadari bahwa penemuannya ini akan membawanya berhadapan dengan gereja Roma Katolik di mana ia bernaung.

Jeorg Breu Elder--A Question to a Mintmaker
Jeorg Breu Elder–A Question to a Mintmaker

Tidak pernah terpikir bagi Luther untuk menentang gereja Katolik Roma.  Peristiwa yang kemudian dikenal sebagai reformasi tersebut dimulai oleh kegelisahan Luther melihat John Tetzel berkeliling menjual indulgensia (surat pengakuan dosa).  Sebenarnya penjualan surat ini merupakan kerja sama antara Paus Leo X dan keluarga Honhenzollern yang diwakili Albert dari Brandenburg untuk meningkatkan pendapatan gereja.  Paus berharap untuk menyelesaikan pembangunan Basilika Santo Petrus.  Mendengar kalimat-kalimat Tetzel seperti, “ketika bunyi koin gemerencing di dalam kotak sumbangan, seketika jiwa dari purgatori melompat keluar,” Luther tidak bisa tenang saja.  Ia menuliskan 97 tesis dalam bahasa Latin, namun tidak ada yang menanggapinya.  Tulisan keduanya, yakni 95 tesis, secara tidak terduga menjadi populer sebab seseorang menerjemahkannya menjadi bahasa Jerman dan menyebarkannya.  Tulisan ini dengan keras menentang penjualan indulgensia dan—secara tidak sadar—otoritas dari Paus yang memerintahkan penjualan itu.  Apabila Paus sanggup membawa seseorang keluar dari purgatori, desak Luther, maka seharusnya ia melakukannya karena kasih bukan dengan menggalang dana pembangunan gereja.  Sesungguhnya lebih baik Paus mulai membagikan uangnya kepada mereka yang miskin ketimbang memeras mereka dengan indulgensia.  Bila perlu, tulis Luther, dengan cara menjual Basilika Santo Petrus.  Bisa kita bayangkan bagaimana wajah Paus pada saat membaca tulisan yang mulai tersebar luas tersebut!

Paus tidak bisa diam saja.  Setelah serangkaian perdebatan, Luther semakin menunjukkan bahwa ia tidak mudah untuk diyakinkan.  Luther bahkan mendeklarasikan John Huss sebagai seorang yang benar dan sebagai konsekuensinya menyatakan hasil konsili gereja yang mengutuk Huss sebagai keliru!  Paus mengisukan surat Exsurge Domine (Bangkitlah ya Tuhan) yang isinya memerintahkan pembakaran buku-buku Luther dan panggilan kepada Luther untuk menghadap atau akan

Luther Membakar Exsurge Domine http://img.dailymail.co.uk/i/pix/2008/03_01/martinlutherG_468x300.jpg
Luther Membakar Exsurge Domine
http://img.dailymail.co.uk/i/pix/2008/03_01/martinlutherG_468x300.jpg

diekskomunikasi.  Luther membalas dengan membakar surat tersebut beserta dengan buku-buku yang mendukung teologi Paus yang keliru.  Ketika Luther berada di Worms, ia diperintahkan untuk menarik kembali semua tulisannya tanpa perdebatan.  Luther membalas dengan bahasa Jerman, bukan bahasa Latin yang merupakan bahasa resmi debat teologi pada masa itu, “Nuraniku dipenjara oleh firman Tuhan.  Aku tidak bisa dan tidak akan menarik kembali tulisanku, sebab untuk tidak taat kepada nurani tidaklah adil dan tidaklah aman.  Tuhan tolong aku. Amin.”  Luther bukan hanya menentang Paus, namun juga seluruh kerajaan pada masa itu.  Tidak heran ia berdoa “Tuhan tolong aku.”  Dengan demikian api reformasi yang sudah terlanjur menyala mulai membakar bukan hanya Jerman, namun seluruh wilayah Eropa.

Pembelajaran Masa Kini

Keberhasilan Luther tidak sepatutnya diletakkan pada pundaknya sendiri.  Ia bisa berhasil karena situasi politik dan teologis yang memang sudah mendekati puncaknya.  Apabila tidak ada rekan-rekan yang mendukung serta raja-raja yang melindunginya, maka nasib Luther tentu tidak jauh beda dengan John Huss pendahulunya.  Terlepas dari dukungan sekitar, peristiwa reformasi ini juga tentu tidak bisa terjadi apabila Luther tidak memberanikan diri memakukan tulisannya.  Pembacaannya terhadap Alkitab membuat ia menjadi peka mengenai keadilan dan kebenaran yang dari Tuhan.  Mendengar ada yang menjual Injil demi keuntungan terasa menggerahkan bagi telinga rahib muda itu.  Karena itulah ia berbicara—menyuarakan apa yang menjadi suara banyak orang masa itu.

Di hari yang penuh kebingungan seperti sekarang ini dibutuhkan seorang seperti Luther.  Mungkin tidak mereformasi seluruh gereja, sinode, atau gereja dunia bak Luther, namun menyuarakan yang benar sesuai dengan kebenaran Allah yang kita pandang di Kitab Suci.  Perlu terus ditekankan bahwa Luther tidak pernah bermaksud meramaikan gereja sampai taraf yang dicapainya.  Ia hanya punya satu keprihatinan: keadilan dan kebenaran Allah.  Ketika kita menyuarakan kebenaran tujuan utamanya tidak boleh sekadar meriuhkan suasana, namun dengan penuh ketulusan dan maksud konstruktif.  Apabila situasi menjadi semakin memanas, maka—seperti Luther—kita berdiri dan meminta pertolongan Tuhan.

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s