Dasar Batu atau Pasir?

hosep-castle-on-the-rock

Janji itu bisa dilanggar.  Pada masa sekarang ini hampir segala sesuatu harus disahkan hitam di atas putih.  Semua hal, mulai dari beli makanan di mal, sampai surat penjualan rumah membutuhkan kata-kata cetak hitam di selembar kertas.  Mengapa ini dilakukan?  Sebab kata-kata tidak lagi bisa dipegang.  Sebuah janji terlayang begitu saja dari bibir, ketika ditagih yang ada hanyalah kegetiran karena sebuah janji telah dilanggar.  Bukan berarti apa yang sudah tercetak kebal terhadap pelanggaran.  Pembuatan surat palsu dan perdebatan di pengadilan menunjukkan bahwa selembar kertas dengan tinta pun tidak bisa menjamin.

Yesus, Tuhan yang datang ke dunia, sudah jelas memahami perilaku manusia ini.  “Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mukjizat demi nama-Mu juga?” (Mat. 7:22).  Akan banyak yang berseru kepada-Nya “Tuhan-tuhan” tetapi dinyatakan sebagai orang yang dijauhkan dari Kerajaan-Nya.  Mukjizat dan nubuat tidak menjamin bahwa seseorang hidup sesuai dengan kehendak Bapa.  Perkataan, kertas, dan mukjizat pun tidak bisa menjadi jaminan.  Apa yang bisa?

Yesus memberikan perumpamaan untuk menegaskan hal yang lebih penting: dasar dari batu dan bukan dari pasir (Mat. 7:24-27).  Meletakkan rumah di atas batu tentu lebih bijaksana dari pada membangunnya di atas pasir.  Semua orang tahu bahwa pasir bukanlah fondasi yang cukup kokoh untuk bangunan yang permanen.  Walau demikian, pada permukaannya kedua bangunan itu terlihat sama saja dan tidak memiliki perbedaan yang signifikan.  Perbedaannya akan terlihat ketika ujian yang dilambangkan oleh hujan, banjir, dan angin keras menerpa bangunan-bangunan itu.  Ambruklah bangunan yang berdiri di atas pasir, sementara ia yang berdiri di atas batu akan tetap berdiri kokoh.  Betapa pentingnya memiliki dasar yang benar.

Seperti apakah maksudnya memiliki dasar yang benar itu?  Yesus menyatakan “Setiap orang yang mendengarkan perkataan-Ku ini dan melakukannya” (Mat. 7:24).  Pada akhirnya mereka yang berjanji akan disebut sebagai penepat ketika ia melakukan apa yang dijanjikannya.  Ia yang menulis dokumen perjanjian akan dinyatakan benar ketika segala persyaratan dan ketentuan yang tertulis dilakukan pada kenyataan.  Mukjizat dan nubuat juga akan menjadi benar apabila dibarengi oleh karakter yang sesuai seperti layaknya Yesus yang tidak hanya bernubuat dan melakukan mukjizat tetapi juga menunjukkan belas kasih dan kerendahan hati.  Mereka yang mendengar perkataan Yesus namun tidak melakukannya tidak ada bedanya dengan mereka yang tak pernah mendengar nama Yesus apalagi ajaran-Nya.

Melakukan apa yang dikatakan Yesus itu bukanlah perkara yang mudah.  Satu set perbuatan baik bukan berarti bahwa seseorang sudah menjadi murid Yesus yang sejati.  Sangatlah mudah untuk melakukan “kasihilah sesamamu” dan “berilah pipi kirimu” ketika segala sesuatu berjalan baik-baik saja.  Tetapi Yesus tidak menuntut seseorang untuk bisa melakukan perintah-Nya di masa semuanya berjalan baik saja.  Lebih dari itu, Yesus ingin agar pengikut-Nya tetap setia bahkan di tengah masa-masa di mana kasih menjadi tampak mustahil sekalipun.  Itulah tandanya murid Kristus yang sejati.

Indonesia baru-baru ini dikejutkan oleh aksi sekelompok oknum tidak bertanggungjawab yang membakar gereja.  Ini tentunya bukan menjadi yang pertama kali.  Dorongan untuk mengasihi bukan berarti mengesampingkan keadilan.  Jauh dari pada itu.  Kasih tanpa keadilan akan menjadi lembek, keadilan tanpa kasih akan menjadi kejam.  Jalinan perpaduan keduanyalah yang diwujudkan dalam keseluruhan hidup Yesus sendiri.  Di tengah banyaknya kericuhan dan kebencian yang tersebar, apakah yang menjadi respons orang Kristen?

Apa yang kita lakukan pada masa pengujian akan menunjukkan siapakah diri kita yang sebenarnya.  Syukurnya kebiasaan ini bisa dilatih.  Tatkala orang Kristen belajar untuk melakukan perintah-Nya hari demi hari, maka ia akan terbentuk menjadi seorang murid.  Murid yang kebiasaannya sudah terbentuk untuk mengasihi akan tetap mengasihi bahkan ketika kasih itu terkesan mustahil.  Dengan demikian sang murid itu telah membangun di atas batu yang kokoh melawan hujan, banjir, dan angin keras sekalipun.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s