Kasih yang Melampaui Batas

http://brianp.mountlehmanllamas.ca/images/jumper.JPG

Dunia ini penuh dengan luka.  Belum sempat satu luka mengering, luka yang lain tertoreh di atasnya menambah rasa perih yang sudah ada.  Terlebih pedih adalah ketika mereka yang menyakiti bukanlah orang yang baru dikenal semenit-dua menit; bukan orang yang tidak mengenal siapa diri kita.  Memang luka yang terpedih adalah luka dari mereka yang paling dekat dengan kita.  Belum puas dengan itu, dunia ini masih menghujamkan belatinya yang tajam, tampak masih merindukan darah segar mengalir lebih deras.  Dunia ini sudah lama mengeluh kesakitan.  Tidak hanya dunia ini sudah terluka, ia juga terus menorehkan luka baru.

Apa sebenarnya yang terjadi?  Kebisingan dan kerusakan moral yang ada menumpulkan hati nurani yang paling tajam sekalipun.  Tampaknya tidak ada lagi yang bersih dan murni.  Masihkah mungkin untuk berbicara mengenai kasih di tengah semua ini?  Tidakkah kasih hanyalah ujaran idealistis dan utopis dari mereka yang duduk nyaman di sofanya?  Adakah mereka yang mengkhotbahkan kasih melakukannya?

Kasih manusia itu terbatas.  Betapa banyak perkataan indah dan hadiah menarik yang diberikan tatkala semuanya berjalan dengan baik.  Ketika semua tidak berjalan baik dan apa yang diberi tidak pernah berbalas, maka semuanya ditarik kembali.  Mengasihi bukan pekerjaan gampang, terutama ketika kasih itu tidak menunjukkan balasan setimpal.  Kasih hampir selalu melukai ia yang memberi kasih.

Kasih manusia selalu terkondisi, kasih Allah tidak.  Bukan berarti Allah tidak punya standar moral atau menyukai semua orang tanpa menghakimi mereka.  Tidak.  Ia benci koruptor.  Ia benci kemunafikan.  Ia benci pemalas.  Ia benci orang-orang yang menggunakan kekayaan dan kekuasaan untuk menindas sesamanya.  Ia benci orang-orang yang menjelekkan etnis yang berbeda semata karena etnis.  Ia membenci rohaniwan yang menipu jemaatnya demi menjadi kaya.  Ia benci manusia yang memperbudak manusia lainnya.  Singkatnya, Ia membenci dosa.  Dosa merusak segala tatanan shalom yang sudah ditanamkan dan dipupuknya di dunia ini.  Ia melihat dunia ini sebagai sebuah tragedi.  Dunia tidak seharusnya seperti ini.[1]

Perbedaan kasih Allah dengan manusia persis terletak di sini.  Apabila manusia sulit untuk mengasihi mereka yang tidak mengasihi kembali, Allah mengasihi manusia ketika manusia masih menjadi seteru-Nya.  Inilah kasih yang melampaui segala batas.  Segenap ciptaan sedang meraung sakit karena kekejian dosa yang merajalela, manusia memberontak terhadap pemerintahan Allah—Allah merespons dengan mengutus sang Putra ke dunia (Yoh. 3:16).

chain-tasks-together
http://timemanagementninja.com/wp-content/uploads/2012/06/Chain-Tasks-Together.jpg

Kasih ini tidak bisa dibatalkan sebab, seperti Paulus katakan, “Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya” (Roma 5:10).  Ketika manusia masih menjadi seteru, Allah sudah mengasihi terlebih dahulu.  Kasih-Nya melampaui batas, masakan ia akan menarik kasih-Nya karena kesalahan dan dosa kita?

Beberapa orang dengan tulus mengkhawatirkan etika yang demikian.  Apabila Allah mengasihi kita ketika kita masih berdosa dan bahkan tidak akan menarik kasih-Nya, bukankah ini adalah panggilan untuk berbuat dosa sebanyak-banyaknya?  Kasih selalu mengandung risiko dan inilah salah satu risikonya.  Meski demikian, mereka yang sudah menenggak kasih Allah yang demikian dahsyat tersebut tentu akan berkata lain.  Kasih Allah yang besar itu bukanlah kasih yang memanjakan, selayaknya orang tua yang selalu menuruti keinginan anaknya.  Kasih Allah adalah kasih yang mengubahkan titik hati yang terdalam.  Zakheus yang dikasihi Allah tidak bisa tetap menjadi Zakheus yang dulu (Lukas 19:1-10).  Saulus yang berdarah dingin tidak bisa tidak menjadi Paulus.  John Newton, kapten kapal perdagangan budak, menjadi pendeta yang menuliskan Amazing Grace.  Mereka yang menerima kasih Allah tetapi tidak ada perubahan sama sekali adalah kemustahilan.  Ini tentu bukan berarti perubahan sempurna, namun disposisi hati yang terdalam tentunya tidak sama lagi.  Ia yang telah menerima kasih Tuhan akan bahagia melaksanakan kehendak-Nya dan sedih karena tidak menjalankan perintah-Nya.  Tidakkah ini lebih baik dari pada seperangkat aturan moral yang terkadang menjadi kemunafikan terselubung?  Apa yang tampak di luar tidak sama dengan yang di dalam.  Yesus mengubah apa yang di dalam supaya apa yang keluar berasal langsung dari hati yang meluap dengan kasih.

Allah adalah kasih.  Apabila hati kita sudah dipenuhi oleh kasih-Nya, sudah semestinyalah kita menebarkan kasih itu kepada mereka yang membutuhkan.  Allah mengasihi kita yang masih seteru agar kita mengasihi mereka yang masih menjadi seteru.  Mudah?  Tidak.  Yesus harus menderita luka fisik dan jiwa.  Kita pun, betapapun sulit, wajib mengasihi melampaui batas.

 

[1] Cornelius Plantinga, Jr., Tidak Seperti Maksud Semula: suatu Ikhtisar Populer tentang Dosa (Surabaya: Momentum, 2002).

2 Comments

  1. “Mereka yang menerima kasih Allah tetapi tidak ada perubahan sama sekali adalah kemustahilan.”
    Lalu bagaimana dengan mereka yang takut melakukan perubahan?

    1. Setiap orang memiliki kadar perubahan yang berbeda-beda “someone.” Bagi beberapa orang berhenti berkata-kata kotor sangatlah mudah, sementara berhenti mendengki kesulitan yang luar biasa. Pasti akan ada perubahan, hanya saja kecepatannya mungkin berbeda-beda. Selain itu orang yang berubah menjadi sempurna saya kira tidak akan ada.

      Terima kasih untuk komentarnya!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s