Apa itu Apologetika?

http://www.theunitive.com/wp-content/uploads/2012/12/Defending-God.jpg
defending-god
http://www.theunitive.com/wp-content/uploads/2012/12/Defending-God.jpg

“Allah tidak perlu dibela” demikian perkataan banyak orang.  “Allah yang merupakan Pencipta dari segala sesuatu di alam semesta ini tidak membutuhkan pembelaan dari manusia yang kecil seperti anda” adalah kalimat lain yang sering didengar tatkala ada yang hendak berupaya membela imannya.  Tidak jarang pula orang mengidentikkan pembelaan iman terhadap berdebat tanpa ujung.  Bukankah kita diajarkan untuk mengasihi?  Apakah mungkin manusia yang kecil ini sanggup membela Allah?

Pertama-tama perlu diperjelas tentang apa yang dimaksud seseorang ketika ia mengatakan hendak membela imannya.  Di dalam iman Kristen membela iman disebut sebagai apologetika.  Kata ini berasal dari 1 Petrus 3:15-16,

“Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab (apologian) kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat, dan dengan hati nurani yang murni, supaya mereka, yang memfitnah kamu karena hidupmu yang saleh dalam Kristus, menjadi malu karena fitnahan mereka itu.”

Kata apologetika berasal dari bahasa Yunani “apologia” yang diterjemahkan “pertanggungan jawab” di dalam teks tadi.  Dapat dilihat bahwa konteks munculnya kata ini adalah jemaat yang sedang teraniaya.  Di tengah masyarakat yang majemuk dan sedang menganiaya orang Kristen pada masa lalu dan masa kini orang Kristen harus mempersiapkan diri dalam “segala waktu” untuk mempertanggungjawabkan imannya.  Itulah apologetika.

Persisnya apakah yang dilakukan apologetika?  Alister McGrath seorang profesor teologi dari Universitas Oxford membaginya menjadi tiga hal: membela, mempersuasi, dan menerjemahkan.[1]  Kita akan melihatnya satu demi satu.

Membela

Pertama kali mendengar kata “membela” mungkin banyak orang mengerenyitkan dahi.  Budaya di Indonesia tidak terlalu memberikan tempat untuk seseorang membela dirinya.  Seringkali orang yang membela diri dianggap tidak ramah, bahkan maunya menang sendiri.  Belum lagi membela agama.  Untuk apa membela Allah?  Hal ini tentu ada benarnya, tetapi perlu dicatat bahwa apologetika bukanlah membela diri, juga bukan membela Allah, namun membela pengertian kita tentang Allah.

angry-men2
http://growinggodlyseed.com/wp-content/uploads/angry-men2.jpg

Sanggupkah kita memahami Allah?  Kontras kebesaran Allah dengan kemampuan akal budi manusia tentu menghasilkan kerendahan hati yang mendalam pada setiap upaya pemahaman kita.  Saya percaya bahwa manusia, betapapun sulit, sanggup memahami Allah dan karakternya secara benar.  Kekristenan percaya bahwa Allah bukan sepenuhnya misteri.  Ia adalah Allah yang telah merendahkan diri dan memperkenalkan diri-Nya kepada manusia.  Penyataan Allah yang terbesar dan terakhir adalah Yesus Kristus itu sendiri, yang telah dicatat dan diuraikan dalam berbagai tulisan di Perjanjian Baru dan dinantikan sejak Perjanjian Lama.  Apabila Allah telah memperkenalkan diri-Nya, maka pastilah manusia sanggup memahami-Nya dengan benar sampai batas tertentu.  Karena itulah orang Kristen percaya betapapun kita tidak bisa memahami Allah sepenuhnya, tetap ada pemahaman tentang Allah yang bisa kita capai dengan benar.  Pemahaman inilah yang hendak dibela orang Kristen.

Semenjak awal berdirinya kekristenan, gereja telah menerima berbagai tuduhan dan keberatan dari berbagai sisi.  Tuduhan dan keberatan yang diterima pada masa lalu dan masa kini tidak selalu sama, meskipun bukan berarti sama sekali berbeda.  Era ilmu pengetahuan seperti sekarang, misalnya, semakin mempersulit orang Kristen yang ingin percaya bahwa Tuhan adalah Pencipta dari segala alam semesta ini.  Ada yang mengira orang Kristen menyembah tiga Allah (Bapa, Ibu (!), dan Anak), misalnya.  Yesus bukanlah Tuhan, melainkan nabi yang dipertuhankan, sebagai contoh lainnya. Demikian adalah hal-hal yang bernada teologis, tetapi ada juga tuduhan yang sifatnya lebih populer.  Sebagai contoh, orang Kristen di Indonesia adalah orang yang kurang beretika.  Orang Kristen selalu berupaya mengkristenisasi dalam setiap kegiatan sosialnya.  Orang Kristen selalu benci pada kebudayaan dan tradisi adat.  Beberapa orang mungkin menyatakan keberatan mereka secara langsung, sementara yang lain mengetahuinya melalui internet.  Setidaknya jelaslah satu hal: tuduhan-tuduhan seperti itu ada dan masih hidup di kalangan akademisi ataupun akar rumput.

Membela pemahaman kita tentang iman Kristen bukan berarti bersikap defensif dan tidak mau kalah.  Terkadang pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh zaman bermanfaat untuk membangun pemahaman kita tentang Allah.  Banyak orang yang tidak suka kepada apologetika karena dirasa terlalu defensif dan menyerang balik.  Ujung-ujungnya selalu debat tak berujung.  Sayangnya ini adalah pemahaman yang sangat sempit tentang apa itu apologetika.  Apologetika tidak hanya soal debat, meskipun bukan berarti debat tidak termasuk apologetika.  Sebagai contoh, ketika seseorang dihadapkan dengan pertanyaan, “Bagaimana kita tahu Tuhan itu ada.”  Saya tidak pernah mendengar seseorang menjawab, “Suka-suka saya kalau mau percaya Tuhan itu ada!”  Paling sering jawaban yang saya dengar adalah “Tuhan tidak bisa digapai dengan akal budi.  Karena itu, percaya saja, toh tidak ada ruginya” atau “Yang terpenting bukan mengetahui argumen keberadaan Tuhan, tetapi mengalami kasih-Nya dalam hidup kita.”  Tanpa disadari oleh orang yang menjawabnya, ia sedang melakukan apologetika, meski tentu saja apologetika yang dilakukannya kurang memuaskan.  Ketika seseorang berupaya menjawab sebuah pertanyaan atau membela iman Kristen dari tuduhan dan kesalahpahaman, maka ia sedang melakukan salah satu fungsi apologetika.

Mempersuasi

images-2
https://ashimasblog.files.wordpress.com/2014/03/images-2.jpg

Manusia selalu berupaya mempersuasi orang lain untuk menyetujui cara pandang yang diajukannya, tidak terkecuali iman Kristen.  Apologetika Kristen tidak puas hanya dengan memberikan jawaban yang menyenangkan bagi kalangan sendiri, namun hendak mempersuasi mereka yang berada di luar iman Kristen sekalipun.  Arah apologetika selalu ke luar.  Ketika orang Kristen ditanya mengapa mereka percaya bahwa Yesus adalah Tuhan, maka mereka menjawab “Karena Alkitab mengatakannya demikian.”  Banyak orang Kristen puas dengan jawaban ini.  Hanya saja mereka yang tidak mengakui kebenaran Alkitab dan bahkan meragukan keberadaan Tuhan tidak akan percaya dengan mudah.

Kita perlu membedakan antara validitas dan kekuatan persuasi dari sebuah argumentasi.  Adalah valid (sah) untuk menggunakan Alkitab sebagai sumber untuk memahami Allah, tetapi hanya dengan menggunakan Alkitab biasanya tidak persuasif bagi mereka yang cenderung ragu dengan Alkitab.  Tujuan apologetika bukanlah hanya menjabarkan argumentasi dan penjelasan yang sah saja.  Lebih dari itu, apologetika berniat mempersuasi pendengarnya yang sering kali tidak berangkat dari asumsi dan latar belakang yang sama agar setuju dengan argumentasi dan kesimpulan yang disampaikan.

Mempersuasi tidak selalu berbentuk argumen abstrak.  Ravi Zacharias dan C. S. Lewis telah menunjukkan bahwa apologetika bisa disampaikan dengan bernas dan apik.  Tidak melulu argumen abstrak, tetapi juga kisah-kisah yang menggugah hati yang beku.  Sesungguhnya kehidupan orang Kristen itu pun adalah sebuah apologetika yang mendalam dan sangat praktis.  Perkataan dan perbuatan dari orang Kristen adalah apologetika yang sangat kuat dan dahsyat.  Tidak ada praktisi apologetika yang menyangkal bahwa karakter Kristen dan tindakan kasih jauh lebih meyakinkan ketimbang ujaran-ujaran filosofis dan penjelasan rasional.  Walau demikian, perkataan dan argumentasi yang valid dan persuasif tidak boleh kehilangan maknanya.  Pada akhirnya akan ada orang-orang yang tidak teryakinkan oleh mereka yang hidupnya baik dan benar.  Tentu itu akan menjadi kesaksian yang dahsyat, tetapi selalu ada orang yang membutuhkan penjelasan rasional yang lebih.  Apologetika diperuntukkan bagi mereka yang mengalami kesulitan untuk memahami rasionalitas iman Kristen secara lebih mendalam.  Apabila ada satu saja domba seperti ini yang terhilang gereja tetap harus mengupayakan yang terbaik untuknya.

Menerjemahkan

god-defending
http://joshfults.com/wp-content/uploads/2013/05/God-Defending.jpg

Komunikasi adalah bagian penting dari apologetika.  Banyak istilah-istilah orang Kristen yang terdengar asing bagi para pendengarnya.  Bayangkanlah ketika seseorang bertemu dengan orang yang ingin tahu tentang kekristenan.  Orang Kristen itu mengatakan, “Anda harus dilahirbarukan oleh Roh Kudus, mengaku percaya di hadapan sidang jemaat, serta mengikuti katekisasi dan pembaptisan sesuai peraturan sinode.”  Saya sendiri sewaktu pertama kali menjadi orang Kristen bahkan tidak tahu apa arti kata “komisi” dan “kolportase!”

Bukan hanya menerjemahkan istilah-istilah gerejawi seperti itu.  Konsep-konsep teologis iman Kristen pun membutuhkan penerjemahan.  Apa artinya bahwa hidup kita sudah dibenarkan di dalam Kristus?  Bagaimana maksudnya Tuhan yang mahakasih sekaligus mahaadil?  Banyak tulisan, video, dan peragaan yang dibuat demi menjelaskan konsep-konsep ini dengan baik.  Sesungguhnya Allah sendiri menggunakan gambaran, analogi, metafora, dan perumpamaan-perumpamaan demi menjelaskan maksud-Nya.  Ia hendak berbicara dalam bahasa yang dimengerti oleh ciptaan-Nya.  Sudah semestinyalah orang Kristen menerjemahkan pemahamannya tentang maksud Allah kepada sesamanya.  Salah satu fungsi apologetika yang tidak kalah penting adalah menyampaikan kembali pemahaman gereja tentang Allah di dalam konteks yang baru.

Apologetika merupakan upaya orang beriman untuk mempertanggungjawabkan imannya melalui membela, mempersuasi, dan menerjemahkan.  Semua orang Kristen pasti berapologetika, entah ia sadar atau tidak, entah dengan baik atau buruk.  Semoga tulisan ini bisa menolong kita mengapresiasi disiplin ilmu yang banyak disalahpahami ini.

 

 

 

 

[1] Alister McGrath, Mere Apologetics: How to Help Seekers and Skeptics Find Faith (Grand Rapids: Baker, 2012), 19-21.

3 Comments

  1. Hallo,

    Terima kasih sudah sharing, bahan yang sama yang saya dapatkan ketika mengikuti RZIM Academy, senang bisa melihat ada orang Indonesia selain pak Bedjo. Apologetik bukan masalah debat intelektual, tapi spiritual jauh lebih penting. Penting untuk menguduskan Kristus dan menjadikan Dia sebagai Tuhan dalam segala aspek hidup kita pertama-tama.

    1. Salam kenal Arya,

      Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan komentar. Saya juga pernah mengikuti program RZIM Certificate for Christian Apologetics di India. Senang bisa menemukan orang yang juga mempelajari apologetika dengan serius di Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s