Tiga Catatan dan Refleksi dari para Penyangkal di dalam kisah Silence

“Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di sorga.” (Mat. 10:33)

Sudah cukup lama film Silence ini diputar di layar lebar.  Saya terhitung terlambat untuk menonton dan menuliskan ulasan film ini (seperti biasanya!).  Hanya saja kali ini saya benar-benar merasakan gelombang kuat dan impresi mendalam yang diberikan oleh film ini sehingga saya ingin menuliskan refleksi singkat.  Hal ini tentu semakin tak terbendung tatkala mahasiswa dan jemaat merekomendasikan dan menanyakan pendapat saya mengenai film yang, sayangnya, popularitasnya kalah jauh dari Power Rangers ini.

martin-scorsese
Martin Scorsese 

Film Silence dibesut oleh Martin Scorsese yang tak kalah kontroversial.  Sutradara ternama ini beriman Katolik Roma, namun pernah menyutradarai The Last Temptation of Christ yang dilarang oleh Gereja Katolik Roma itu sendiri.  Kehidupan pernikahan dan perceraian Martin yang mencapai angka lima pun tidak masuk dalam kategori orang Katolik Roma atau Kristen yang saleh menurut kriteria umumnya.  Ia sendiri menyadari hal ini dan menyebut “I’m a lapsed Catholic. But I am Roman Catholic; there’s no way out of it.”[1]  Berbeda dengan film-film yang lahir dari Scorsese sebelumnya, film ini mengambil tema religius yang tidak umum, yaitu tentang misionaris Roma Katolik yang akhirnya murtad di tengah penganiayaan pemerintahan Jepang.  Silence itu sendiri merupakan buah pena dari Shusaku Endo seorang novelis Katolik Jepang yang karyanya banyak mengupas kaitan iman, keraguan, dan kebudayaan Jepang.  Film ini merupakan sebuah proyek ambisius yang memakan waktu dekade untuk pengidean sampai rilisnya.  Saya tidak akan berupaya untuk menceritakan ulang keseluruhan film ini, tetapi sekadar memberikan beberapa catatan pinggiran mengenai berbagai isu di dalam film tersebut.

 

Kisah Silence

Wajar sekali untuk bergumul dengan pertanyaan-pertanyaan ketika menonton film ini.  Film ini mengajak penonton untuk melihat kekuatan yang tidak masuk akal dari iman kepada Kristus.  Kecintaan para Kakure Kirishitan (Kristen tersembunyi) kepada para misionaris.  Kichijiro yang terus menyangkal tetapi secara ironis memohon pengampunan hanya untuk menyangkal kembali berulang kali.  Tetapi pelik utama dari film ini adalah pilihan Bapa Rodrigues (selanjutnya “R”) yang memutuskan untuk menginjak gambar Yesus (fumie) demi menyelamatkan orang-orang yang tengah disiksa karena iman mereka.  Dilema ini tidak akan menjadi pikiran dan perenungan apabila R menyangkal iman demi keselamatan dirinya sendiri, demikian pula film ini tidak akan meriakkan pikiran apabila R menyangkal kemudian kembali imannya dan meneruskan pekerjaan misi secara tersembunyi—film ini memaksa setiap orang Kristen yang menontonnya untuk berpikir dengan sangat serius, dan tidak jarang menenggelamkan kita dalam samudra luas perenungan pribadi: “akankah aku melakukan hal yang serupa?”

Bapa Rodrigues

Bapa Rodrigues menghadapi kemelut yang tidak mudah menurut standar masa itu dan bahkan masa kini.  Dari awal film sudah terasa pukulan-pukulan yang menggetarkan imannya.  Pertama-tama adalah kabar bahwa Bapa Ferreira (selanjutnya “F”) telah menyangkal imannya.  Mendengar seorang tokoh panutan yang kehilangan iman jelas tekanan yang tidak kecil.  Kedua adalah pengalaman mereka sendiri dalam melayani orang-orang Kristen dengan sembunyi-sembunyi.  Dalam beberapa kasus R mulai meragukan iman dari orang-orang yang dia layani, sebab mereka tampak lebih menyukai simbol-simbol kekristenan ketimbang Yesus itu sendiri.  Mereka terbuai oleh janji paradiso di mana mereka tidak mengalami kesusahan dan jerih payah mereka hari ini.  Ditambah dengan itu, R melihat betapa cepatnya beberapa orang Kristen di desa yang ia layani menyerahkan sesama saudara seiman mereka (khususnya Kichijiro).  Memang ada yang berani dan siap mati, namun sebagian besar tidak mau mati demi iman.  Ia menyaksikan bagaimana orang-orang Kristen tersebut disalibkan di tengah deburan ombak hingga beberapa hari sampai mati.  Mendengar kisah kemartiran dengan menyaksikan martir di depan kita adalah pengalaman yang sama sekali berbeda.  Para petinggi Jepang dengan tidak bosan-bosannya menegaskan bahwa ini semua adalah karena R tidak mau menyangkal imannya.  R-lah yang menjadi alasan para petani bodoh itu meninggal.  Mereka tidak tahu apa-apa.  Mereka mencintai R dan bukan Yesus.  Puncak dari pergumulan R adalah perjumpaannya dengan F yang konon murtad tersebut.  Bayangkan keterkejutan R ketika F justru menegaskan apa yang dikatakan oleh para petinggi Jepang.  Para martir tersebut mati bukan demi Yesus!  Mereka mati karena mereka mencintai para misionaris tersebut!  Dengan kata lain, ketika F memutuskan untuk meninggalkan iman, itu karena ia menyadari bahwa segenap upaya evangelisasi mereka, kemartiran dari para petani dan nelayan yang tidak bersalah, semuanya tetap akan berakhir sia-sia.

R terguncang hebat namun ia tidak menjadi seorang misionaris Jesuit tanpa kualifikasi yang kuat.  Ia menunjukkan ketegaran hatinya dalam mengikuti Yesus yang Ia cintai, meski Yesus begitu diam hingga menyesakkan dalam semua doa-doa dan jeritan sang misionaris muda tersebut.  Para petinggi Jepang tidak kehabisan akal.  Kejahatan dan kekejian manusia memang demikian mengherankan.  Orang-orang Kristen dilukai lehernya kemudian digantung terbalik sehingga darahnya menetes melalui luka kecil tersebut—membuat mereka menderita, namun tidak bisa mati dengan cepat.  Inilah yang dialami F.  Sekarang ini dilakukan kembali kepada orang-orang Kristen.  Di batas rasa belas kasihan R, ia tidak bisa lagi meminta orang-orang Kristen itu untuk teguh dalam iman.  Ia menyerukan agar mereka segera menyangkal iman.  Betapa terkejutnya R bahwa orang-orang itu sudah menyangkal imannya, tetapi tidak diberhentikan hukumannya.  Mereka tidak mau orang-orang kecil ini menyangkal iman.  Mereka mau R menginjak gambar Yesus itu.  “Ini cuma formalitas!” Tak henti-hentinya diserukan oleh F dan petinggi Jepang itu.  Di tengah jeritan mereka yang dianiaya dan seruan dari petinggi Jepang dan mantan mentornya, tiba-tiba suasana menjadi sunyi dan Yesus yang selama ini diam memecah keheningan-Nya:

“Injak! Injak! Aku lebih daripada siapapun tahu sakit yang ada di kakimu.  Injak!  Untuk diinjak oleh manusialah Aku terlahir di dunia ini.  untuk berbagi dalam penderitaan manusialah aku memikul salibku.”

Inilah yang menjadi bendungan terakhir Rodrigues.

“Imam itu meletakkan kakinya di atas fumie itu.  Pagi merebak.  Dan di kejauhan, ayam berkokok.”

Catatan dan Refleksi dari para Penyangkal Tuhan

Film ini menimbulkan banyak pertanyaan.  Secara umum sinematografinya sangat bagus dan momen-momen keheningannya terasa begitu membekas di hati.  Isu dalam dialog mereka pun bukan isu yang abstrak dan kering, namun isu teologis-etis di tengah situasi dan kondisi yang menghimpit nafas dan jantung.  Dialog yang disampaikan terasa sangat riil dan nyata.  Para pemimpin Jepang punya alasan mereka sendiri untuk menindas orang Kristen.  Para misionaris juga punya kegigihan dan argumentasi yang tidak lemah.  Ini berbeda sekali dengan banyak film Kristen yang mana lawan antagonisnya sangat buruk dan jahat, sementara tokoh Kristennya tampak tidak bercacat.  Tentu ini juga berbeda dengan film non-Kristen yang juga dengan sengaja mengerdilkan umat beriman ke dalam karikatur yang tidak bertanggungjawab.  Kisah ini begitu realistis hingga mengganggu idealisme kehidupan keimanan kita.  Film ini tampaknya memang tidak berniat untuk menenangkan penontonnya, tetapi malah menggugah—menghantui bahkan.  Sampai hari ini sulit bagi saya melenyapkan gambaran-gambaran dari film tersebut.  Berikut adalah catatan dan refleksi pribadi saya terhadap tokoh-tokoh penyangkal di dalam kisah Silence tersebut.

Kichijiro

Pertama, iman Kichijiro.  Bagaimana dengan iman Kichijiro?  Satu hal yang luar biasa dari film ini adalah realismenya.  Iman itu rapuh.  Iman seperti baja itu adalah kualitas yang jarang ditemukan.  Bahkan rasul Petrus pernah berupaya untuk menyelamatkan nyawanya sendiri di tengah Guru-Nya yang agung tengah berjalan menuju kematian.  Ia melakukannya dua kali, pertama dengan pedang, kedua dengan penyangkalan—pedang yang lebih tajam, pedang yang tampaknya menghujam hati Yesus, tapi terlebih mendalam menghujam hati Petrus sendiri.  Iman semacam Kichijiro ini ternyata kembali di dalam laporan Paulus di Galatia.  Petrus masih berupaya untuk menyelamatkan dirinya sendiri, hingga Paulus wajib menegur dia.  Kichijiro bukan tidak punya inspirasi dari pendahulunya.

Apakah iman yang serapuh itu adalah iman yang sungguh-sungguh di hadapan Tuhan?  Apakah Kichijiro yang terus memohon pengampunan meski telah berkhianat berkali-kali adalah orang beriman?  Entah mengapa dalam jalannya cerita saya menjadi simpatik dengan Kichijiro.  Di tengah pengkhianatannya yang berkali-kali ia sadar satu hal bahwa hanya Tuhan yang sanggup menyelamatkan jiwanya yang dihantui rasa bersalah.  Kichijiro memang persona yang menjijikkan dan tidak terhormat dibandingkan R dan para martir di awal film, tetapi entah mengapa saya merasa bahwa orang-orang seperti Kichijiro ini juga sungguh dikasihi Tuhan, sama seperti martir-martir sebelumnya.  Apakah iman Kichijiro adalah iman yang otentik?  Bila ia langsung pergi dan meninggalkan Yesus untuk seterusnya, menjawabnya menjadi mudah.  Tetapi melihat gelagat kehidupan Dia yang memang ambigu (dan sangat realistis!), entah mengapa saya berharap ia memang adalah orang beriman: orang beriman yang tengah bergumul dengan dosanya yang ia benci namun tak bisa ia pinggirkan.  Banyak orang bisa mengidentifikasikan dirinya dengan Kichijiro, saya termasuk.

Kedua, iman Ferreira.  Jikalau Kichijiro menyangkal demi melepaskan diri dari maut, berbeda dengan F yang kisahnya sama sekali berbeda.  Apakah F dapat dibela imannya?  Untuk F saya tidak punya respek yang sama dari pada dengan F maupun Kichijiro.  Memang F mengalami suatu kondisi yang berat, tetapi sungguhkah itu pilihan terbaik?  Ketika dialog antara F dan R terjadi, saya merasa bahwa F (dengan tekanan orang-orang di sekitarnya tentunya) memang berupaya memadamkan iman R.  Adalah satu hal menyangkal iman demi menyelamatkan orang yang tengah disiksa, lain halnya ketika kita diminta untuk menyesatkan orang lain.  Yesus mengatakan “Barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil yang percaya ini, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia dibuang ke dalam laut” (Mrk. 9:42).

Bapa Ferreira

Apakah saya sedang menghakimi F?  Saya tidak tahu.  Tetapi tolong bantu saya merekonsiliasikan perkataan Yesus ini dengan apa yang sedang dilakukan F di sini.  Kalau kita berpikir bahwa Yesus mengucapkan perkataan itu pada waktu damai, tentu saja kita salah besar.  Saya pikir F memang telah kehilangan imannya.  Argumentasi F bahwa orang Jepang tidak dapat memahami Injil Tuhan Yesus bagi saya tidak valid.  Balasan R semuanya benar dan tidak dikarikaturkan, betapapun tidak praktis.  Apabila kebenaran hanya berlaku di satu tempat tetapi tidak di tempat lain, maka itu bukan kebenaran.  Apabila Jepang adalah sebuah rawa-rawa, maka mengapa ada martir-martir seperti di awal film yang imannya teguh?  Saya tidak hendak meminimalisir konteks dan situasi F, tetapi film inipun menunjukkan tokoh-tokoh iman yang sanggup bertahan lebih dari F sendiri.  Saya kira apa yang F lakukan tidak patut dicontoh.

Ketiga, Rodrigues.  Satu hal yang perlu dipertimbangkan dari R adalah alasan R untuk menyangkal imannya.  Kalau kita melihat R menyangkal imannya demi menyelamatkan diri sendiri maka perdebatan tentu tidak akan terjadi.  Tetapi semua yang menonton film ini dan menyimak semua percakapan dan peristiwa yang melingkupi R akan sepakat bahwa ia berada dalam dilematika etika yang terlampau rumit.  Di tengah derasnya arus waktu dan kegiatan kita di tahun 2000-an ini, sedikit sekali waktu untuk mengunyah dan mencerna kompleksitas yang terjadi dalam waktu 160 menit.  Belum sempat kita merenungkan suatu peristiwa, belum bayangan tubuh lemas para martir di awal, belum kering darah martir yang dipenggal, R harus mengambil keputusan secara beruntun.  Kita menontonnya 160 menit.  R mengalaminya selama bertahun-tahun, kehujanan, kelaparan, kehausan—kesepian dalam kesunyian Tuhan yang begitu sesak.

Saya tidak tahu apa yang akan saya lakukan apabila saya menjadi R.  Saya tidak tahu apalagi yang harus saya lakukan apabila nyawa banyak orang bergantung kepada satu injakan fumie itu.  Sebenarnya suara Yesus di dalam film itu telah menjawab pergumulan kita.  Hanya saja, tetap pertanyaan itu menghantui kita: “akankah kita melakukan hal yang sama?”  “Bagaimana apabila tidak ada suara Yesus itu?” Sesungguhnya di sini saya tidak tahu bagaimana harus menjawab.  Kehidupan R setelah itu yang menuliskan bantahan kepada iman Kristen pun terasa sangat bertentangan dengan semua yang kita hargai dalam kekristenan.  Tetapi entah mengapa, ada nuansa pengorbanan heroik yang kita rasakan ketika kita memandang R.  Kita tahu bahwa R tidak melakukannya demi dirinya sendiri.  Kita tahu bahwa justru karena ia setia kepada Yesus maka ia menginjak fumie tersebut.

“Sesudah sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?” Jawab Petrus kepada-Nya: “Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.” Kata Yesus pula kepadanya untuk kedua kalinya: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Jawab Petrus kepada-Nya: “Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.” Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: “Apakah engkau mengasihi Aku?” Dan ia berkata kepada-Nya: “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.”

(Yohanes 21:15-17)

Kisah terakhir inilah yang rindu saya lihat dalam film tersebut.  Kisah inilah yang bergema kuat dengan karakter Yesus, Tuhan kita.  Ia tidak menghina mereka yang lemah dan terjatuh.  Ia mencari orang berdosa dan Ia memakai orang berdosa.

Film dan novel ini memang karya yang sudah sepantasnya dibaca, ditonton, direnungkan, didiskusikan, dan tentunya, menjadi inspirasi kisah dan film bernuansa kekristenan ke depannya.

Silakan berikan komentar dan pendapat anda sendiri di kolom komentar.

 

[1] After Image: The Incredible Catholic Imagination of Six Catholic American Filmmakers, Robert A. Blake, Loyola Press, 2000, p. 25.

Iklan

1 Comment

  1. Sinopsis yang baik. Terimakasih banyak, bro Vincent! Saya pikir Padre Rodrigues akhirnya bersikap “hening” karena Tuhan juga “hening” ketika para rohaniean dan umat-Nya sedang dalam aniaya. Seperti yang dianut oleh sang mentor – Padre Ferreira, bahwasannya iman sesorang kepada Kristus itu “hening” adanya. Hanya Tuhan yang tahu isi hati seseorang terlepas dari semua tindakan yang terlihat. Dan jika sudah begitu, tentu saja hal itu tidak boleh dibenarkan. Saya takut jika lewat film ini Martin Scorsese sedang menawarkan sebuah excuse yang didasarkan atas pemikiran etika situasi ala kaum Kristen liberal. Pula saya menyetujui jika darah kaum martir itu tidak akan pernah sia-sia adanya. Bahwa jika kita kuat ketika sedang mengalami persecution, itu adalah karena anugerah-Nya semata. God bless you, brother!
    Regards,
    Ev. Wilfrid Johansen – GKKK Taman Kopo Indah Bandung

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s