Vincent Tanzil

At SAAT Youth Camp 2012
At SAAT Youth Camp 2012

Vincent Tanzil adalah lulusan Desain Komunikasi Visual di Universitas Kristen Petra (S.Sn.) dan menyelesaikan perkuliahannya di Seminari Alkitab Asia Tenggara (M.Div.).  Semenjak perjumpaannya dengan Kristus pada akhir semester kedua di Universitas Kristen Petra, ia semakin yakin bahwa kebenaran yang didapatkannya ini bukanlah sebuah kebenaran yang bisa diletakkan di lemari hias di dalam rumah untuk dipandangi bila perlu, namun sebuah kebenaran yang menuntut tanggung jawab yang lebih besar, yaitu tidak lain, adalah memberitakannya kepada mereka yang belum pernah mendengar kebenaran yang mulia ini.

Alasan Terbitnya Blog Ini

Saya percaya bahwa kebenaran yang mulia ini tidak hanya harus meresap ke dalam hati kita yang terdalam, namun juga ke dalam pikiran yang terdalam. Sehingga kebenaran ini tidak hanya menguasai satu aspek dari hidup seseorang, namun menguasai kehidupan seseorang sepenuhnya hingga pada akhirnya mempengaruhi seluruh dunia. Seiring berjalannya waktu Tuhan telah begitu murah hati untuk mengenalkan kepada saya kekayaan dari kebenaran firman-Nya yang sangat dalam dan tidak akan pernah habis digali. Semakin hari menggali kebenaran-Nya, semakin hari pula semakin merasa kecil dalam kebesaran-Nya. Seperti Lusy, tokoh di dalam kisah The Chronicles of Narnia karya C.S. Lewis, ketika bertemu dengan Aslan yang merupakan perlambangan Tuhan Yesus, bertanya dengan polosnya: “Aslan, engkau nampak lebih besar dari sebelumnya kita bertemu.” lalu Aslan menjawab dengan lemah lembut “Bukan aku yang bertambah besar, namun seiring engkau bertambah dewasa, engkau akan melihat aku semakin besar.”

Di tengah kebesaran Tuhan yang sedemikian memukau, timbullah pemikiran bahwa kebesaran Tuhan ini seharusnya mampu memukau mereka yang belum pernah mendengarnya pula! Tidakkah indah apabila kita dapat membagikan apa yang telah kita dapatkan? Apalagi saat mengetahui bahwa apa yang kita bagikan mungkin bisa menjadi jawaban di saat yang paling tidak terduga. Ketika membaca tulisan-tulisan orang lain dari mancanegara yang sampai ke tangan saya melintasi jarak yang sedemikian jauh dan rentang waktu yang begitu luas, saya merenungkan apakah mereka yang menuliskannya dulu pernah terpikir bahwa seorang mahasiswa di Indonesia akan membaca tulisan mereka, menitikkan air mata, maupun menjadi orang yang lebih radikal di dalam melayani Tuhan yang mulia? Saya telah banyak mengalaminya melalui tulisan banyak orang, mengapa tidak berharap yang sama kepada Tuhan untuk menggunakan tulisan saya juga?

Selain menjadi media penyebaran pengetahuan, saya juga terus berharap untuk belajar lebih lagi melalui apa yang saya tuliskan, sebuah kegiatan yang saya sebut “membaca ulang pikiran saya.” Menulis untuk memuaskan diri adalah satu hal, menulis untuk mewarnai dunia juga adalah hal lainnya, mengapa tidak dilakukan keduanya?

Pembelajaran terus menerus menuntut perubahan dan perkembangan.  Apabila tidak demikian, maka ia tidak pernah belajar, namun hanya nampak belajar.  Demikian pula dengan saya.  Seiring berjalannya pembelajaran, ditambah pula tempaan dari kehidupan, serta dengan pengalaman menapaki dunia, saya tidak dapat mengatakan bahwa saya sama persis dengan diri saya yang memulai blog ini.  Karena itu pembaca yang jeli mungkin menemukan adanya perkembangan dalam nada maupun bentuk tulisan saya seiring dengan berjalannya waktu.  Hal ini, sekali lagi, sangatlah wajar.  Saya berharap dapat terus berkembang sekaligus menjadi berkat bagi para pembaca sekalian.  Tentunya privilese tersebut tidak bisa saya gapai tanpa kerja sama (komentar, rating, dan masukan) dari pembaca.  Mohon.

Soli Deo Gloria

Vincent Tanzil, 5 January 2010, updated 12 August 2010, updated 16 December 2013, updated 17 January 2015.

13 Comments

  1. Kiranya semangat belajar yang tertuang lewat tulisan-tulisanmu dapat memotivasi banyak pembaca untuk terus mau belajar juga….Selamat berkarya Tanziil ^_^

    Suka

  2. selamat pagi pak.. saya senang bisa dapat referensi rohani seperti ini. makasih.
    jika berkenan saya ingin mendapat penjelasan singkat terkait sikap umat kristen terhadap tradisi imlek, secara umum.

    makasih pak.

    Suka

    1. Salam kenal pak Gunawan, terima kasih sudah mampir dan memberikan komentar. Secara sederhana orang Kristen tidak harus anti-budaya ataupun selalu pro-budaya. Ketika melihat kebudayaan (seperti Imlek, Cap Go Meh, bahkan lagu Jazz, fesyen terbaru, media sosial, dll.) kita harus melihat apakah budaya tersebut sifatnya antara: (1) Kristen; (2) non-Kristen; (3) anti-Kristen.

      Kategori (3) jelas harus ditolak. Sementara kategori (1) dan (2) tetap bisa dilakukan. Contoh sederhananya perayaan tahun baru umumnya (2016-2017) atau perayaan ulang tahun. Orang Kristen biasanya tidak ambil pusing dengan kebiasaan ini karena memang tidak mengandung unsur-unsur yang bertentangan dengan firman Tuhan. Tetapi kebudayaan untuk mabuk-mabukan dan pesta pora di hari-hari itu ditolak mentah-mentah.

      Demikian pula Imlek, tidak ada masalah bagi saya untuk merayakannya dengan segala simbolnya. Namun apabila takhayul-takhayul yang bernuansa kultik mulai masuk, maka kita tidak mengikutinya dengan segala hormat.

      Singkatnya begitu pak, semoga membantu.

      Suka

  3. Pak Vincent, sy yg mengikuti seminar Budishem di GKI Gading Serpong.. Dl waktu kuliah (20 th lalu) sy menyukai Buddha tp stlh seminar td kok ternyata bgtu y.. Yesus sy jauh jauh jauh lebih baik.. Yg sy tdk mengerti soal Trinitas & burung merpati yg turun sbg roh Kudus langit terbuka Allah Bapa berbicara pd saat bersamaan.. Apakah hal ini mengurangi keimanan sy kpd Yesus, bgmna dng logikanya kalau sdh spt ini.. Dimn batas nya.. Terima Kasih.. GBU..

    Suka

    1. Halo bu Arina, senang menemukan anda mampir ke blog saya. Mengenai kebingungan akan Tritunggal tentu tidak berarti bahwa anda kurang beriman. Terkadang ada beberapa hal yang belum kita pahami seutuhnya, tetapi toh kita percaya. Semisal, kita tahu dan percaya bahwa Tuhan menyelamatkan kita, tetapi mungkin kita belum pernah menelusuri kedalaman karya keselamatan Yesus mulai dari Perjanjian Lama hingga Perjanjian Baru beserta secara implikasinya. Meski demikian kita tetap menyebut diri kita orang beriman, bukan? Demikian pula dengan Tritunggal.

      Nah, sekarang bagaimana menjelaskan Tritunggal itu akan cukup panjang lebar, jadi saya pikir saya berikan referensi saja ya bu. Ini ada beberapa referensi yang mungkin bisa membantu:

      http://www.tanyaalkitab.com/2013/01/penjelasan-singkat-tritunggal.html
      http://www.katolisitas.org/trinitas-satu-tuhan-dalam-tiga-pribadi/
      https://www.gotquestions.org/Indonesia/Tritunggal-Trinitas.html

      Suka

      1. Trima Kasih Pak Vincent atas infonya.. Slamat jg buat rencana pernikahannya.. Semoga Tuhan Yesus memberi kelancaran acaranya smpi pd akhirnya.. Emailnya bs diinfokan ke sy y Pak diemail sy.. Ditunggu infonya bila ada seminar lg.. Tuhan Yesus memberkati anda ber2 pasangan & keluarga..

        Disukai oleh 1 orang

      2. Terima kasih juga Anggi dan bu Arina. Soal jadwal seminar saya bisa dilihat di Facebook saya bu, biasanya saya sharekan kalau ada seminar terbaru saya. Di Jakarta nanti bulan Mei akan ada seminar saya tanggal 5 Mei 2017 di Gereja Karunia.

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s